Titian Persatuan di Wonosari: Nattaya Kenenza Tegaskan Anak Muda Garda Depan Pembangunan Daerah

Jawa, Jawa Tengah, Kendal182 Dilihat

KENDAL – medianasional.id- Semangat baru menggeliat di Dusun Pidik, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon. Jembatan gantung peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1918 itu akhirnya akan segera direhabilitasi setelah puluhan tahun menjadi saksi perjuangan warga.

Proyek bertajuk “Titian Persatuan” yang digagas oleh gerakan sosial Aksi Bersama ini bukan sekadar membangun jembatan, melainkan juga membangun harapan dan memperkuat kolaborasi lintas generasi. Program ini diharapkan mampu menjadi pemantik kebersamaan masyarakat desa.

Jembatan sepanjang sekitar 100 meter tersebut selama ini menjadi akses vital warga menuju lahan pertanian dan aktivitas ekonomi. Meski kondisinya semakin rapuh, masyarakat tetap menjaga keberadaannya secara swadaya. Kini, berkat sinergi antara Pemerintah Kabupaten Kendal, gerakan sosial Aksi Bersama, serta dukungan komunitas muda, proyek rehabilitasi akhirnya terealisasi.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Kendal, Nattaya Kenenza, menegaskan bahwa anak muda harus tampil di garda depan pembangunan daerah. Ia menilai, kehadiran generasi muda bukan hanya penting sebagai penerus, tetapi juga sebagai penggerak utama perubahan sosial.

Menurut Nattaya, generasi muda tak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. “Anak muda harus ambil peran. Kami dari Karang Taruna, PMI, dan komunitas Muda Bersatu hadir bukan hanya melihat, tapi ikut bergerak,” ujarnya dilokasi, Selasa (7/10/25).

Ia menambahkan, jembatan ini bukan sekadar bangunan fisik yang menghubungkan dua sisi sungai, tetapi juga simbol penyatu semangat, kolaborasi, dan harapan masyarakat Kendal. “Inilah wujud nyata bagaimana gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam membangun daerah,” tambahnya.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas sosial, dan anak muda dinilai sebagai contoh nyata pembangunan partisipatif yang efektif. Pemerintah memberi ruang, sementara masyarakat mengisinya dengan aksi nyata. “Langkah kecil ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bahwa anak muda mampu menjadi agen perubahan untuk Kendal yang berdikari dan manusiawi,” tutur Nattaya.

Program nasional “Titian Persatuan” yang diinisiasi oleh Anies Baswedan melalui gerakan sosial Aksi Bersama bertujuan memperbaiki dan membangun jembatan di pelosok Indonesia. Program ini diharapkan membuka akses pendidikan, ekonomi, serta pelayanan publik bagi masyarakat desa yang selama ini terisolasi.

Dalam kunjungannya ke lokasi, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut meninjau langsung progres rencana rehabilitasi jembatan bersama masyarakat dan relawan. Ia menyampaikan bahwa rehabilitasi jembatan seperti ini bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga wujud kebersamaan yang menjadi jati diri bangsa.

“Jembatan bukan sekadar struktur baja dan kabel. Ia adalah penghubung hati, penguat persaudaraan, dan penegas bahwa kemajuan hanya bisa lahir ketika kita bergerak bersama,” ujar Anies Baswedan di sela kunjungannya.

Sementara itu, Bupati Kendal Hj. Dyah Kartika Permanasari, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap kegiatan ini meski tidak dapat hadir langsung karena agenda lain. Ia menilai, inisiatif seperti ini mencerminkan kolaborasi sejati antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang berkeadilan.

“Rehabilitasi Jembatan Wonosari adalah bukti bahwa pembangunan tidak harus menunggu kemampuan besar, tapi dimulai dari niat bersama. Pemerintah daerah, masyarakat, dan gerakan sosial seperti Aksi Bersama saling melengkapi. Inilah wajah pembangunan baru yang kita dambakan—lahir dari kolaborasi, tumbuh dari kepedulian,” ujar Bupati Dyah Kartika Permanasari dalam keterangan tertulisnya.

Ia menambahkan, semangat kebersamaan yang tercermin dari aksi nyata di Desa Wonosari dapat menjadi teladan bagi daerah lain. Pemerintah Kabupaten Kendal berkomitmen terus membuka ruang kolaborasi bagi semua pihak yang memiliki tujuan sama: menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Rehabilitasi Jembatan Wonosari diharapkan menjadi tonggak baru bagi lebih dari 3.700 warga desa setempat. Jembatan ini bukan hanya penghubung antardusun, tetapi juga jembatan harapan—simbol bahwa dengan bergandeng tangan, bangsa ini mampu membangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga rasa percaya, persatuan, dan masa depan yang lebih kuat.(*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses