KENDAL- medianasional.id- Kekhawatiran warga Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal akhirnya terjadi. Tanggul darurat Sungai Bodri yang tak kunjung diperbaiki pemerintah, dan hanya dibuat menggunakan karung pasir akhirnya tak mampu menahan luapan air sungai pada Sabtu dini hari (16/5).
Limpasan Sungai Bodri memang tidak sampai menggenangi permukiman warga. Namun, air yang meluap merusak puluhan hektare tambak bandeng dan udang milik warga setempat.
Kepala Desa Pidodokulon, Didik Prasetiawan, mengatakan hingga saat ini sudah ada laporan dari tujuh pemilik tambak yang mengalami kerusakan akibat luapan sungai tersebut.
“Ada laporan dari tujuh pemilik tambak yang rusak. Bedah sungai Bodri kali ini tidak begitu besar, tidak seperti tahun-tahun kemarin. Kalau yang lalu kan debit di Bendungan Juwero kan sampai dua meter lebih itu merusak tambak ratusan hektare,” ujar Didik Prasetiawan, Minggu (17/5/26).
Menurut Didik, kerugian akibat kerusakan tambak warga diperkirakan mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta. Ia menyebut kondisi kali ini masih jauh lebih ringan dibanding kejadian sebelumnya saat debit air Bendungan Juwero meningkat drastis.
“Kalau debit air di Bendungan Juwero itu mencapak dua meter lebih, kerusakan sawah dan tambak bisa ratusan hektare, dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi, ratusan rumah warga juga akan terkena dampak,” jelas Didik.
Warga bersama pemerintah desa berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan perbaikan permanen pada tanggul Sungai Bodri di wilayah Desa Pidodokulon. Perbaikan dinilai mendesak agar luapan sungai tidak kembali merusak tambak maupun mengancam permukiman warga.
Didik menegaskan, apabila tanggul Sungai Bodri sampai jebol, sedikitnya 350 jiwa akan terdampak. Saat ini warga bersama pemerintah desa terus bergotong royong memperkuat tanggul sebagai langkah penanganan sementara sambil menunggu tindak lanjut dari pemerintah.
“Kami sudah beberapa mengirim surat kepada Dinas PUPR, PSDA Jawa Tengah dan instansi terkait lainnya, namun dari laporan tersebut, hanya ditindaklanjuti dengan mengirim karung untuk membuat tanggul darurat,” tandas Didik.(*)






