Lombok Barat, NTB – Dunia kesehatan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mendapat sorotan penting dengan diselenggarakannya Workshop “Advanced Perioperative Anesthesia Life Support” (APALS) 2025. Acara ini merupakan kolaborasi strategis antara Kolegium Penata Anestesi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), bertempat di RSUD Tripart Gerung Patut Patuh, Patju Lombok Barat, Selasa 4 November 2025.
Workshop APALS ini didesain sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan kesamaan pola pikir dan standar tata laksana kegawatdaruratan di ruang operasi. Dr. dr. Bhirowo YP, Sp.An – TI, selaku Fasilitator Workshop, menjelaskan bahwa APALS berfokus pada tata laksana kegawatan pada kondisi perioperatif—meliputi fase sebelum operasi (pre-operasi), selama operasi (durante operasi), hingga setelah operasi (pasca-operasi).
“Ini bertujuan agar ada kesamaan pola pikir antara dokter dan teman-teman perawat atau penata anestesi dalam menghadapi kegawatan tadi. Selama ini mungkin guideline-nya belum seragam,” ujar Dr. Bhirowo.
Kegawatan yang menjadi fokus utama dalam pelatihan ini mencakup Hipoksia (kekurangan oksigen dalam tubuh, Tata laksana jalan napas, Kegawatan sirkulasi tekanan darah tinggi atau masalah jantung.
Dirinya menambahkan bahwa kegagalan menangani kegawatan sering terjadi karena kurangnya kesiapan, alat yang tidak standar, atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak terstandardisasi. APALS hadir untuk mengisi kekosongan standar tersebut, terutama bagi seluruh tim yang bekerja membantu anestesi di kamar operasi, khususnya penata anestesi yang merupakan perawat terlatih.
Di kesempatan yang sama, M. Ariyadi, Wakil Ketua Kolegium Penata Anestesi sekaligus Kepala Lembaga Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Kolegium Penata Anestesi, menerangkan bahwa workshop APALS adalah bagian dari rangkaian kegiatan yang puncaknya akan diakhiri dengan Simposium Internasional.
“APALS adalah sebuah tools yang dikembangkan oleh Perdatin dari dokter anestesi. Kegiatan ini bertujuan agar para tenaga profesional yang bekerja di lingkup operasi bisa melakukan pertolongan apabila terjadi kegawatdaruratan, khususnya di anestesi,” jelas M. Ariyadi.
Ia menekankan bahwa APALS adalah karya anak bangsa dan merupakan standar yang dirancang agar Indonesia memiliki tata laksana pasien yang seragam dan menjadi guideline nasional.
“Harapannya adalah Nol Kematian. Semakin semua memahami dan bekerja sama sebagai tim di kamar operasi, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Targetnya nanti semua standarnya sama. Indonesia standarnya akan menggunakan ini,” tegas M. Ariyadi.
Workshop APALS ini adalah yang kedua kalinya diadakan secara nasional, setelah pelaksanaan perdana di Yogyakarta. Pelaksanaan di RSUD Patut Patuh, Patju ini menandai pertama kalinya APALS diselenggarakan di luar lokasi penciptaannya (Jogjakarta), menjadikannya momen bersejarah bagi NTB.

M. Ariyadi juga mengungkapkan target jangka panjang: APALS diharapkan dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan Dokter Spesialis Anestesi dan kurikulum pendidikan Keperawatan Anestesiologi. Hal ini relevan mengingat di NTB sendiri akan dibuka program studi Keperawatan Anestesiologi di UIN.
Pemilihan RSUD Tripart Gerung Patut Patuh, Patju, Lobar diakui bukan tanpa tantangan, namun berkat dukungan penuh dari Direktur rumah Tripart Gerung Lobar.






