Banyumas, medianasional.id – Suasana khidmat dan penuh semangat religius menyelimuti pelaksanaan upacara bendera yang berlangsung berbeda dari biasanya, saat para Srikandi kelas VII A tampil gagah sebagai petugas upacara di tengah suasana puasa Tarwiyah yang dijalani seluruh siswa-siswi. Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, pengibaran Sang Merah Putih berlangsung lancar dan sarat makna spiritual menjelang Hari Raya Iduladha.
Meski tengah menahan lapar dan dahaga, seluruh peserta upacara tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kekhusyukan dan disiplin tinggi. Momen tersebut menjadi semakin bermakna karena diisi refleksi mendalam tentang hakikat kurban oleh Ustadz Khairul Umam, S.Pd.I. di hadapan seluruh peserta upacara.
Dalam amanatnya, Ustadz Khairul Umam menegaskan bahwa peringatan hari kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan rekonstruksi kehidupan dan penguatan totalitas iman kepada Allah SWT.
“Perjalanan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta dunia harus tunduk pada cinta kepada Allah. Ketika di puncak kebahagiaan memiliki putra yang sangat dicintai, Allah justru menguji keimanannya dengan perintah penyembelihan. Di situlah letak totalitas pengorbanan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sosok Nabi Ibrahim menjadi simbol pengorbanan sebagai investasi masa depan, sementara Nabi Ismail menjadi lambang keikhlasan dan kepasrahan total kepada kehendak Allah SWT. Menurutnya, perjuangan, keikhlasan, dan tawakal akan melahirkan keberhasilan nyata sebagaimana digambarkan melalui turunnya “Bidzibhin ‘Adzim” atau sembelihan agung sebagai bentuk kemenangan spiritual.
“Pengorbanan, keikhlasan, dan ketawakkalan akan melahirkan kesuksesan yang nyata. Itulah pesan besar Iduladha yang harus menjadi energi kehidupan umat,” ujarnya penuh semangat.
Kepala sekolah SMP Persada Insan Nusantara (SMP Perantara Tebuireng 17) Sokaraja, Banyumas, H. Mohammad Husain, S.Pd., M.Si., turut menambahkan bahwa momentum Iduladha harus dijadikan mesin penggerak dalam membangun generasi yang tangguh, mandiri, dan bermanfaat bagi umat. Ia menekankan pentingnya menyatukan niat kuat dengan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Semangat Nabi Ibrahim harus menjadi pemacu amaliyah kehidupan. Dimulai dari niat sebagai kebulatan tekad, dilanjutkan aksi nyata seperti Santri Preneur, hingga menghasilkan karya terbaik. Kita harus menjadi muslim yang kuat iman dan takwanya, gigih usahanya, hebat hasilnya, serta siap menjadi Khoiro Ummatin yang mandiri dan maslahat untuk umat,” pungkas H Mohammad Husain.
Dari lapangan upacara yang sederhana namun penuh makna itu, semangat kurban seolah menjelma menjadi bara penggerak jiwa. Bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, kemalasan, dan kecintaan berlebihan pada dunia demi meraih ridha Allah SWT dan masa depan umat yang gemilang. (Asep)






