
Bandar Lampung, medianasional.id – Kasus dugaan pencurian mobil milik nasabah BCA finance mulai ada titik terang setelah pada hari kamis 30 Agustus 2018 korban RH (39) melapor ke Polsek Teluk betung utara Polresta Bandarlampung Polda lampung dengan LP No:TBL/B/616/Vlll/2018/LPG/Resta Balam/Sektor TBU. Yang diterima oleh Bripka Y.Ajie.B.
Dari keterangan RH, walaupun sebelumnya sangat susah untuk melaporkan kasus ini akhirnya pihak kepolisian mau juga menerima Laporannya, karena dari banyak kasus serupa pihak kepolisian seolah menyalahkan pelapor karena menunggak cicilan dan mengatakan ada fidusianya, bahkan salah satu oknum polisi mengatakan sudah ada putusan pengadilan. Dan yang tidak masuk akal pelapor harus membawa bpkb, padahal korban RH hanya melaporkan pencurian mobilnya agar pelaku bisa ditangkap.
Adapun masalah BCA finance, RH mengatakan tidak ada masalah karena semenjak RH dipaksa untuk menghadap kepala cabang BCA finance pada hari selasa 24 Agustus 2018 lalu, RH sudah menyiapkan uang untuk melunasi tunggakan cicilan.
Dari liputan wartawan media nasional provinsi lampung, memang sedang marak penarikan mobil atau motor oleh debt kolektor baik di tengah jalan maupun di rumah nasabah leasing. Dalam minggu ini saja ada tujuh (7) kejadian serupa, tapi masyarakat enggan melapor karena endingnya pasti disuruh menyelesaikan ke pihak finance dan nasabah dibebani denda, bunga dan biaya tarik debt kolektor yang bisa mencapai jutaan rupiah, kalau tidak diselesaikan oleh nasabah, unit disita pihak leasing dan nasabah hanya menanggung kerugian Dp serta cicilan yang sudah diangsur ber tahun-tahun.
Untuk itu debt kolektor ini menjadi PR besar bagi kapolda baru Polda Lampung. Sebab hampir 80 % begal yang tertangkap, mereka sebelumnya adalah debt kolektor.
Terpisah, RH mengatakan pada kamis (30/08) malam pukul 23.00 wib sekelompok orang yang seolah-olah ribut dan lari ke arah warung RH bahkan sempat mendobrak kursi di warung RH sampai patah dan yang anehnya ada 2 orang mengaku anggota kepolisian dari Polda lampung, walaupun akhirnya kedua oknum tersebut minta maaf dan mengganti kerugian kursi yang patah. Apakah ini bentuk intimidasi dari gerombolan debt kolektor karena kasusnya dilaporkan ke pihak berwajib? (red)







