
Bandar Lampung, Medianasional.id -Baru saja merayakan ulang tahun ke 63 pada 5 Juni 2021 lalu, sastrawan Lampung ini mengaku akan tetap komit di jalan sastra.
“Sastra bagi saya adalah hidup, dan hidup saya dari dan untuk sastra,” kata Isbedy berjuluk Paus Sastra Lampung, Selasa (29/6) sore di kediamannya, Perum Permata Asri Blok I.7 No.17, Karanganyar, Jatiagung, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Isbedy kelahiran Rawa subur/Kebon jahe, Enggal, Bandar lampung. Kawasan yang dulu terkenal “hitam”. Ia sempat masuk dalam kubangan itu, sebelum ia terjun ke dunia seni yang dimulai dari teater. Ia juga sempat mengenyam olahraga karate di Kushinryu Karate Indonesia (KKI) menyandang DAN 1 (sabuk hitam).
Tapi, Isbedy lebih menonjol sebagai sastrawan. Padahal, ia juga pernah menekuni jurnalistik di sejumlah media massa di Lampung, seperti Lampung Post, Kupas Tuntas, Sapulidi, Lampung TV (kini iNews), Poros Lampung, INILampung, dan Pantau Lampung News.
“Entah kenapa orang lebih tahu saya adalah sastrawan,” katanya sambil tersenyum.
Kunjungan ke rumah Isbedy yang dikenal menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik, di isi percakapan ringan dan kadang perenungan.
Isbedy berkesenian sudah 40 tahunan. Diakuinya sejak cerpen pertamanya terbit di media Jakarta tahun 1979, berjudul “Pembersihan”.
“Walaupun sebelumnya saya sudah menulis puisi ke RRI Tanjungkarang dan media di Lampung seperti Realita Pers,” katanya.
Isbedy yang kini berusia 63 tahun mengatakan tetap akan berkarya, dan mendidik calon-calon sastrawan melalui Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.
“Lamban Sastra adalah komunitas, rumah untuk bersastra. Komunitas itu ada direkturnya, yakni Erika Novalia Sani,” katanya.
Isbedy yang setia didampingi istri, Fitri Angraini, S.S., M.Pd., tetap lincah berbicara. Dia bersama putri bungsu, Dzafira Adeliaputri Isbedy, yang juga gemar membaca puisi dan menulis cerita.
Isbedy dikenal familiar mengahadapi lawan bicara.
Kunjungan Awak Media Nasional.id ke rumah Isbedy bersama mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Negeri Jakarta, Aulia Trisia, yang tengah menyiapkan skripsi.
“Saya tak berubah sejak dulu. Ya begini aja. Dan saya sebisa mungkin menjawab dan berbincang jika ada kawan bicara. Biarpun dia anak-anak,” jelas sastrawan yang memiliki sekira 40 buku cerpen dan puisi itu.
Sejumlah buku sastranya pernah dianugerahi buku sastra terbaik dari Yayasan Hari Puisi Indonesia, Festival Hujan di Kalimantan Selatan, Majalah Tempo, dan Badan Bahasa Kemendikbud RI. Selain kerap memenangkan lomba cipta puisi/cerpen di Tanah Air.
Tahun 2021, ayah dari enam anak ini, telah meluncurkan 3 buku puisi dan 1 buku cerpen.
“Jadi, saya masih tetap berkarya. Saya juga sudah punya 2 manuskrip kumpulan puisi,” imbuh dia.
Isbedy mengatakan, terbuka bagi yang mau belajar puisi dan cerpen. “Saya siap memberi ilmu yang saya punya. Tapi dengan pola saya,” katanya menutup percakapan.
Pertemuan dengan Isbedy dbiakhiri dengan kenang-kenangan pemberian 2 batu cincin. Ia sangat sukacita, sebab Isbedy penyuka batu cincin yang menghiasi jemarinya.
Reporter: Andri Rasyid






