Saat Kader, Kebun, dan Wisata Bersatu: Potret Pembangunan Desa Serang

Purbalingga.medianasional.id– Pagi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja selalu dimulai dengan dua pemandangan. Di balai desa, ibu-ibu mengantre di Posyandu sambil menggendong balita. Di kejauhan, petani sudah di kebun memanen wortel, kentang, dan kubis. Dua aktivitas yang terlihat beda, tapi di Desa Serang keduanya nyambung jadi satu cerita: membangun desa dari akar.

Kader: Garda Terdepan di Balai Desa

“Bu, bulan ini berat badannya naik 4 ons. Bagus,” sapa Yuli, kader Posyandu ke salah satu ibu. Tangannya cekatan mencatat di KMS sambil sesekali menenangkan balita yang rewel habis ditimbang.

Di Desa Serang, Posyandu bukan kegiatan sambilan. Ini rutinitas wajib tiap bulan yang tidak pernah diabaikan. Layanannya lengkap: timbang berat badan, ukur tinggi badan, pemberian Vitamin A, cek ibu hamil, sampai konsultasi gizi.

Kuncinya ada di kader. Mereka kenal semua warga. Kalau ada balita yang dua bulan tidak naik berat badannya, sore itu juga rumahnya didatangi. “Kami tidak mau kecolongan. Mencegah lebih gampang daripada mengobati,” kata Yuli.

Kebun: Mesin Ekonomi dari Tanah Subur

Keluar dari balai desa, jalan sedikit mendaki, hamparan kebun hortikultura menyambut. Hawa sejuk dan tanah pegunungan yang subur bikin sayur mayur di sini kualitasnya premium. Wortel, kentang, kubis, dan cabai dari Desa Serang sudah punya nama di pasar. Nilai jualnya tinggi.

Sektor pertanian ini yang jadi tulang punggung ekonomi warga. Hasil panen tidak cuma dijual ke luar, tapi juga jadi bahan edukasi gizi di Posyandu. Kader gampang kasih contoh menu MP-ASI karena bahannya ada di kebun sendiri. “Ibunya nanam, anaknya makan. Sehatnya dapat, hematnya juga dapat,” ujar Darto, petani sekaligus ayah dua balita.

Air pegunungan yang bersih dan melimpah jadi modal utama. Cukup untuk kebutuhan rumah tangga dan mengairi kebun sepanjang tahun.

Wisata: Napas Baru dari Udara Sejuk

Satu lagi yang bikin Desa Serang beda: pemandangannya. Deretan gunung, kabut tipis pagi hari, plus udara dingin yang bebas polusi. Potensi ini pelan-pelan digarap jadi destinasi wisata unggulan Purbalingga.

Warga mulai membuka homestay. UMKM kreatif tumbuh, menjual olahan hasil kebun seperti keripik kentang dan manisan buah. Wisatawan datang cari ketenangan, warga dapat tambahan penghasilan.

Menyatunya Tiga Sektor: Rumus Desa Serang

Kepala Desa Serang bilang, tiga hal ini memang sengaja dijalankan beriringan. “Posyandu jaga generasi kita tetap sehat. Kebun kasih makan dan kasih uang. Wisata buka lapangan kerja baru. Kalau tiga-tiganya jalan, kesejahteraan warga pasti naik,” jelasnya.

Lihat benang merahnya: Anak sehat karena Posyandu rutin dan makanan bergizi dari kebun sendiri. Orang tua semangat ke kebun karena hasilnya laku mahal. Uang dari kebun dan wisata bikin keluarga mampu beli gizi tambahan dan sekolahin anak. Anak yang pintar nanti yang teruskan kebun dan kelola wisata. Berputar dan saling menguatkan.

Potret Desa yang Mandiri

Desa Serang menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus nunggu proyek besar. Dimulai dari balai desa tempat kader menimbang balita. Dilanjutkan di kebun tempat petani menanam dengan telaten. Dikuatkan oleh wisata yang jual keindahan apa adanya.

Saat kader, kebun, dan wisata bersatu, yang lahir bukan cuma anak yang sehat. Tapi juga ekonomi yang mandiri dan warga yang berdaya saing. Itulah potret Desa Serang hari ini.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses