Rendra dan Napas Perlawanan Hadir di NgopiSastra #28 Pelataran Sastra Kaliwungu

KENDAL- medianasional.id- Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) kembali menggelar NgopiSastra edisi ke-28 di Omah KopiSufi, Desa Brangsong, Kecamatan Brangsong, Kendal. Edisi kali ini mengangkat tema “90 Tahun W.S. Rendra” sebagai bentuk penghormatan terhadap maestro sastra dan teater Indonesia, W.S. Rendra, yang dikenal dengan karya-karyanya yang bernapas humanisme dan perlawanan.

Kegiatan dibuka dengan pemutaran film dokumenter “Kantata Takwa”, yang menyoroti pergulatan pemikiran serta idealisme Rendra melalui musik, teater, dan puisi. Film tersebut menjadi pintu masuk bagi peserta untuk memahami konteks sosial yang melatari lahirnya gagasan-gagasan kritis sang penyair.

Usai pemutaran film, acara berlanjut dengan diskusi reflektif yang dipandu Bara Luqmana, penyair sekaligus pegiat Pelataran Sastra Kaliwungu. Diskusi berlangsung cair dan menjadi ruang untuk membaca ulang relevansi pemikiran Rendra terhadap perkembangan sosial dan kebudayaan hari ini.

Dua narasumber dihadirkan, yakni Kelana Siwi Kristiyaningtyas, seniman sekaligus penyair dari Lembaga Sastra Rakyat, serta Setia Naka Andrian, sastrawan yang juga Sekretaris PBSI Upgris. Keduanya membahas nilai humanisme, kritik sosial, dan keberanian ekspresi yang selama ini melekat pada karya-karya Rendra.

Kelana Siwi Krisningtyas menekankan bahwa karya Rendra tidak hanya penting secara estetika, tetapi juga menuntut tanggung jawab moral dari pembacanya. “Rendra selalu mengingatkan kita agar tidak diam ketika melihat ketidakadilan. Puisi baginya adalah sikap hidup, bukan sekadar rangkaian kata,” katanya baru ini.

Suasana acara semakin hangat ketika Kelana Siwi dan Setia Naka berkolaborasi membacakan puisi-puisi yang terinspirasi dari gaya Rendra. Pembacaan itu menghidupkan kembali ekspresi lantang, energi teaterikal, dan napas perlawanan yang menjadi ciri khas “Burung Merak”.

Presiden Pelataran Sastra Kaliwungu, Bahrul Ulum A. Malik, menyampaikan bahwa NgopiSastra kali ini menjadi momentum meneguhkan kembali nilai-nilai pemikiran Rendra. Ia menilai warisan Rendra masih relevan dan penting dirawat oleh generasi sastra masa kini.

Acara ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalanan 14 tahun Pelataran Sastra Kaliwungu yang konsisten menjaga ruang ekspresi, dialog, dan pertumbuhan ekosistem kebudayaan di Kendal.(*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses