KENDAL –medianasional.id– Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kabupaten Kendal, Suwardi, menilai produksi telur ayam ras secara nasional sejatinya sudah surplus atau mencukupi. Namun, persoalan distribusi yang belum merata masih menjadi tantangan utama, terutama di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.
Hal tersebut disampaikan Suwardi usai mengikuti rapat koordinasi persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) bersama Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, di Jakarta beberapa hari lalu.
Menurutnya, ketimpangan distribusi berdampak langsung pada fluktuasi harga telur di daerah.
Suwardi yang juga anggota DPRD Kendal mengungkapkan, produksi telur ayam ras nasional saat ini mencapai sekitar 18.100 ton per hari atau setara 289 juta butir telur.
Sementara itu, kebutuhan nasional tercatat sebesar 17.200 ton per hari, sehingga secara hitungan produksi berada dalam kondisi surplus.
“Dengan angka tersebut, produksi telur nasional sebenarnya sudah mencukupi. Namun yang menjadi persoalan adalah distribusinya yang belum merata, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur,” ujar Suwardi, Jumat (23/1/26).
Ia menilai ketimpangan distribusi tersebut berpotensi menyebabkan harga telur di sejumlah daerah masih melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) sebagaimana diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2025.
“Karena penyebaran belum merata, masih ada wilayah yang harga telurnya melebihi HAP,” jelasnya.
Selain persoalan distribusi, Suwardi juga menyoroti meningkatnya biaya produksi yang dihadapi peternak.
Kenaikan harga Day Old Chick (DOC) ayam dan Soybean Meal (SBM) sebagai bahan baku pakan utama dinilai semakin menambah beban operasional peternak.
“Naiknya harga DOC dan SBM berdampak langsung pada ongkos produksi. Kami berharap ada solusi konkret agar beban peternak bisa diringankan,” katanya.
Meski demikian, Suwardi mengapresiasi kinerja Menteri Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang dinilainya berhasil menjaga produksi telur nasional tetap stabil dan mendekati kondisi surplus.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga, terutama menjelang HBKN.
Sebelumnya, Dirjen PKH Kementerian Pertanian, Agung Suganda, disebut telah merespons cepat keluhan peternak dengan mengundang para pelaku usaha dalam rapat koordinasi.
Dalam arahannya, Agung meminta seluruh integrator pembibitan serta importir SBM untuk berkolaborasi dan mengutamakan pemenuhan kebutuhan peternak rakyat.
Ia juga menegaskan perlunya sinergi menyusul pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggunakan telur dan daging ayam sebagai bahan pangan utama, guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga di tingkat konsumen.
“Menjelang HBKN, semua pihak harus bersinergi agar kebutuhan masyarakat tercukupi dan harga tetap terjaga,” pungkasnya.(*)




