Penggiat Budaya dan Sastra Gelisah Atas Tema Karya Sastra Pesantren yang Kurang Liar

Jawa Tengah, Kendal842 Dilihat

KENDAL –  medianasional.id – Peringati Hari Lahir ke 13 Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) dan Haul ke-15 Abdurrahman Wahid, Pelataran Sastra Kaliwungu menyelenggarakan Gelar Sastra Pesantren di Teras Budaya Prof. Mudjahirin Thohir – Kampung Sabrang Lor Desa Kutoharjo Kecamatan Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, Senin, (30 Desember 2024).

Kegiatan Gelar Sastra Pesantren menghadirkan beberapa tokoh diantaranya, Ahmad Tohari (Sastrawan Nasional), Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, M.A. (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Undip), Dr. M. Abdullah, M.Hum. (Dosen Sastra Indonesia Undip), Ahmad Bintang Irianto, S.Pd.I., M.Pd. (Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon), Pipit Mugi Handayani, M.A. (Dosen Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang), Shuniyya Ruhama (GUSDURian Kendal), dan beberapa tokoh lainnya.

Kegiatan dibagi menjadi 2 sesi, yakni, NgopiSastra#25 dengan tema Gus Dur, Sastra dan Pesantren pada pukul 15.30—17.30 dengan agenda diskusi dan haul Gus Dur dengan narasumber. NgopiSastra#25 ini menyoroti kebiasaan para pemikir di dunia pesantren yang banyak terpengaruh pikiran-pikiran barat.

“Kita banyak membaca dan terpengaruh pikiran-pikiran barat. Tetapi, kita sendiri lupa, banyak pikiran-pikiran di negara kita yang layak kita ikuti. Syekh Nawawi, Syekh Sholeh Darat, Syekh Al Mutawaqin. Sastra itu lahir dari Pondok Pesantren, dari situ kita mengenal banyak bahasa, banyak kitab, yang memunculkan banyak kebudayaan dan peradaban. Mari kita mencoba di tiap daerah menggali pikiran-pikiran ulama kita, para intelektual kita, sehingga kita tahu Islam Nusantara bukan hanya tulisan, tetapi kita tau kontekstualnya, esensinya,” ungkap Dr. M.Abdullah.

Dr. M. Abdullah, M.Hum, Dosen Sastra Indonesia Universitas Diponegoro mengajak para pemerhati sastra di Kabupaten Kendal untuk memproduksi sastra-sastra pesantren, menulis karya sastra yang mengakar dari tradisi pesantren. “Mari, saya mengajak untuk banyak memproduksi karya-karya sastra berbasis pesantren, kita bisa berlatih menulis daluwang dan menjadi penyalin syiir-syiir. Sehingga bisa lebih bermanfaat du dunia dan dapat dipertanggungjawabkan di akhirat,” sambungnya.

Shuniyya Ruhama menyampaikan bahwa tradisi menulis di dunia pesantren telah banyak ditunjukkan oleh tokoh-tokoh kita, salah satunya Gus Dur. “Gus Dur itu menulis dan membaca, termasuk menulis syiir yang sekarang banyak kita lantunkan, Syiir Tanpo Wathon. Sehingga, para santri mari mengikuti apa yang dilakukan oleh Gus Dur,” katanya.

Kegiatan Sesi Kedua, yakni Sarasehan Sastra Pesantren bersama Ahmad Tohari dengan tema Menggali Nilai-Nilai Pesantren dalam Karya Sastra pada pukul 19.30—23.00 diawali dengan Hadrah dari Grup Rebana Al-Badar Kaliwungu dan Tari Sufi Kaliwungu.

Presiden Pelataran Sastra Kaliwungu, Bahrul Ulum A. Malik menyampaikan, Gelar Sastra Pesantren merupakan salah satu ikhtiar Pelataran Sastra Kaliwungu dalam meramaikan khazanah Sastra di Indonesia. “Gelar Sastra Pesantren ini berangkat dari kegelisahan terhadap pertumbuhan sastra pesantren terutama di Kaliwungu yang dilingkupi banyak pesantren. Tentu kegiatan PSK ini tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh yang ada di Kaliwungu, yang ada di Kendal. Ini adalah support dan kado dari teman-teman di berbagai daerah. PSK bisa tetap eksis, meskipun kecil tetapi sedikit berkontribusi terhadap sastra Indonesia,” jelasnya.

Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Undip menyoroti Sastra Pesantren hanya berisi pemakluman dan kedekatan cinta terhadap Allah. “Sastra pesantren itu tidak ada karya-karya sastra yang pemujaan terhadap kekuatan untuk menguasai dunia, kecuali akhlak, puja-puji, surga, absurd semua. Jadi jangan menjadi orang hebat secara dhohiriah, kecuali hebat dalam arti menjaga nafsunya kalau membaca sastra-sastra pesantren. Kebangkitan bersifat duniawi tidak ada dalam dunia sastra pesantren, yang ada pemakluman, kedekatan mahabbah Illahiah,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, ketiga narasumber dan peserta sepakat menyoroti kebekuan sastra pesantren yang dianggap kurang berkembang karena selalu berbicara akan hal-hal yang agamis dan pemujaan-pemujaan. Dalam forum sarasehan tersebut, Setia Naka Andrian, Kelana Siwi Kristianingtyas dan Muslichin yang juga Ketua Lesbumi Kendal mengungkapkan kegelisahan penggiat seni budaya dan sastra akan tema-tema karya sastra pesantren, yang kurang liar.

“Saya lebih mengidentifikasikan yang dihasilkan oleh sastrawan kebanyakan santri NU dan kiai NU dan karyanya identik dengan pesantren NU. Boleh tidak saya menganggap sastra pesantren itu sastra NU. Sastra pesantren ini mengalami kemunduran atau kemajuan, ketika melihat bentuknya, esensinya, dan karakter sastra pesantren yang seperti itu saja. Padahal pemahaman agama islam dikontekstualisasikan dengan semangat baru. Saya sangat seneng melihat sastra pesantren yang belum terpikirkan atau terpendam dalam pikiran kita. Nah bagaimana memunculkan semangat itu untuk generasi sekarang,” ucap Muslichin.

“Disini banyak pesantren tumbuh di Kaliwungu, tetapi masih sedikit yang menulis sastra. Seperti apa kiat menggairahkan proses kreatif santri di Kaliwungu, apakah bisa mengizinkan santri untuk keluar pondok untuk mempelajari dan diskusi soal sastra seperti yang berlangsung di Madura?” kata Naka melengkapi pendapat Muslichin.

Menanggapi pendapat tersebut, Pipit Mugi Handayani dan Mudjahirin Thohir dengan tegas mengungkapkan bahwa sastra pesantren tidak bisa dianggap sebagai sastra NU.

“Yang menggerakkan sastra pesantren itu NU, tapi saya yakin bahwa sastra pesantren tidak hanya legal formal NU saja, tetapi banyak hal di bawah yang tidak menggunakan identitas NU. Saya melihat bahwa pesantren itu eksklusif. Sastra pesantren itu mensenikan ajaran agama,” kata Pipit.

Mudjahirin Thohir mengingkatkan bahwa dunia pesantren jauh lebih tua dari pada NU itu sendiri. “Dunia pesantren jauh lebih tua daripada NU, termasuk aktivitas di pesantren jauh lebih lama daripada di NU, karena itu jangan sekali-kali NU mengkooptasi pesantren,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia memberikan kiat-kiat kepada para sastrawan pesantren. Bahwa seniman/sastrawan itu harus otentik, kalau mengikuti apa yang diikuti di masyarakat itu namanya muhibbin, follower. Otentik itu resah, cuma tradisi di pesantren itu seni ada dua jalur, estetika dan konten. Yang banyak dia mencoba mengembangkan estetikanya dengan metafora-metafora, tetapi kontennya tidak dalam bentuk pemberontakan, tetapi penjustifikasian, puji-pujian dan macem-macem. Yang kurang konten-konten dalam sastra pesantren adalah konten pemberontakan, dalam arti mengubah tradisi-tradisi yang sebenarnya jumut menjadi sesuatu yang progresif.

Sementara itu, Kiai Ahmad Tohari, penulis Buku Ronggeng Dukuh Paruk menyoroti lebih menekankan pentingnya mengangkat tema-tema yang mengedepankan nilai-nilai kesalehan sosial dalam menulis karya sastra, bagaimana agama menghadirkan kepedulian sosial dalam masyarakat. “Justru, karena saya santri, saya harus mampu menulis perikehidupan yang luas seluas-luasnya, karena itu tetap berada dalam kekuasaan Allah. Tema-tema karya sastra saya selalu santri, selalu tentang orang miskin,” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses