Paus Sastra Lampung di Belanda, 1 Buku Puisi Diterbitkan

Bandar Lampung, Medianasional.id –
Sekujur pergelangan tanganku dingin dan serasa semutan pagi ini, sulit menggerakkan jemari. Kamis,  12/11/2015 pagi ini–di Rotterdam masih pukul 07.14–suhu berada di angka 9° Celcius, istriku. Aku ingin pelukan hangatmu.

Bangun tidur usai salat subuh, kulanjutkan mengopi dan menikmati rokok. Aku meneleponmu melalui layanan Messenger agar gratis, tapi tiada sahutan. Saat ini aku membutuhkan komunikasi suara dari keluarga dan rekan di Tanah Air.

Itu catatan perjalanan Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS, dari Belanda pada November 2015.

Catatan yang dimuat berseri di jejamo.co selama sebulan akhirnya terhimpun sebagai pengantar buku puisi “November Musim Dingin”.

Isbedy menjelaskan, ia sebulan di Belanda untuk baca puisi dan diskusi di Leiden dan Rotterdam. “Menyenangkan karena saat itu sangat dingin selepas musim gugur dan jelang musim salju,” katanya.

Meski masih musim dingin, cerita Isbedy, ia harus mengenakan pakaian rangkap dan tebal. “Karena aku kan dari daerah tropis, ya kaget juga.”

Selain ke Belanda, ia telah melawat ke berbagai negara lain karena sastra. Seperti Malaysia, Brunei, Thailand, Singapura.

“Alhamdulillah saat Gubernur Lampung Sjachroedin ZP saya diajak umroh, dan diminta menulis puisi saat umroh,” cerita Isbedy.

Lalu puisi-puisi dari Tanah Suci itu kemudian diterbitkan bukupop berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”.

Soal senang jalan-jalan karena sastra diakui Isbedy, semua itu hanya buah dari kerja bertahun-tahun. “Tak ada istimewanya, hanya nasib baik dari hasil kerja keras selama ini,” katanya.

Isbedy yang dikarunia enam anak, kini menetap bersama istri tercintanya, Fitri Angraini, S.S., M.Pd., yang dosen di UIN Radin Intan Lampung.

Pada usia 63 tahun, 5 Juni 2021, Isbedy masih energik. Ia tetap menulis dan menerbitkan buku sastra. Bahkan, belum beredar bukunya sudah dipesan pembaca. Seperti “Kau Kekasih Aku Kelasi” yang terjual 150 eksemplar.

“Yang mesan/membeli dari politisi, pengusaha, dan kalangan sastrawan, serta dosen,” katanya.

Akhir dari kunjungan awak Media Nasional.id, Isbedy menghadiahi beberapa puisi berikut ini.

Isbedy Stiawan ZS

63 KALI BERPUTAR

63 kali aku berputar; dari

rumah ke jalan, pulang

ke pelukmu

bercumbu!

(kita saling mencumbu?)

63 kali aku berjalan; putarkan

waktu, bulan, matahari. tiba

juga pada pelukanmu

berpelukkasih

(aku meminta kasihmu?)

63 kali berputar! adalah jalan

yang kembali ke rumah; wajahmu,

kekasihku. adakah kau sesungguhnya

menunggu?

aku amat lelah

(kau sudah rindu padaku?)

Lampung, 27 Juni 2021

KEPADA ARIEF MULYADIN

sesungguhnya kita masih simpan

sehat itu sebelum datang sakit,

maka riangkan bahagia dan duka

masuk ke dalam selimut dan nikmati

63 KALI BERPUTAR

63 kali aku berputar; dari
rumah ke jalan, pulang
ke pelukmu

bercumbu!
(kita saling mencumbu?)

63 kali aku berjalan; putarkan
waktu, bulan, matahari. tiba
juga pada pelukanmu

berpelukkasih
(aku meminta kasihmu?)

63 kali berputar! adalah jalan
yang kembali ke rumah; wajahmu,
kekasihku. adakah kau sesungguhnya
menunggu?

aku amat lelah
(kau sudah rindu padaku?)

Lampung, 27 Juni 2021

KEPADA  ARIEF MULYADIN

sesungguhnya kita masih simpan
sehat itu sebelum datang sakit,
maka riangkan bahagia dan duka
masuk ke dalam selimut dan nikmati
hangatnya; juga indah mimpi

kita masih menyimpan sehat amat
baik. tak pernah bisa layu dan kusut,
maka dendangkan itu saat sakit
agar kembali pada sehat sedia kala

beriangriang; segelas kopi, sebatang
rokok dimana kita terbang dalam
kepulan asap; “jangan lupa semangkuk
mie bang djadin,” bisikku

ah ya! aku suka sekali mie ayam,
siapkan di meja; malam terasa
cepat pergi, kita masih tertawa

mari tawa
mari sehat!

KA 28 Juni 2021

KAU MAU MENINGGALKAN JUNI

apa kau mau meninggalkan juni
berbasahbasah, tanah air yang
gembur?

sedang aku masih menunggu matahari
dari timur ke barat, bersama cahaya
dan peluh seluruh tubuhnya

setiap hari hujan mengunjungiku,
lantas apa kau ingin biarkan juni
penuh oleh air (mata) dari orangorang
yang pergi jauh dan tak lagi main
bersamasama?

di juni ini begitu banyak yang pergi
tanpa kembali. ditinggalkan basah
daundaun, bungabunga, dan cintakasih
di rumah

yang menghidupi ayatayat
yang mendoakan kepergian

28 Juni 2021

LALU SUNYI

hujan yang berkunjung sejak tadi
masih menyisakan petir ke sini
pintupintu goyang, dinding bergetar
langkahku gontai. langgam yang
kemarin sampai padaku sumbang

lalu sunyi. aku menerkanerka
adakah datang bencana hingga
harihari kemudian?

lalu sunyi

KOTA SEMAKIN CEKAM

ada yang berkelebat
di sisasisa hujan. tadi
ia berteduh di depan
rumah. hujan lebat,
tidak seperti biasa
diiringi petir dan angin
kencang, listrik padam

kota semakin cekam

ambulan meraung
tembus jalan basah
di kota yang gelisah

gubernur+ walikota
entah sedang apa

ia berkelebat membelah
jalan yang basah
di depan sana rumah sakit
yang semakin sesak.

Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di berbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain.

Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020).

Buku-buku puisi Isbedy lainnya, ialah Menampar Angin, Aku Tandai Tahilalatmu, Kota Cahaya, Menuju Kota Lama (memenangi Buku Puisi Pilihan Hari Puisi Indonesia, tahun 2014): Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi, dan Kau Kekasih Aku Kelasi (Siger Publisher, 2021), Masih Ada Jalan Lain Menuju Rumahmu (Siger Publisher, 2021).

Kemudian sejumlah buku cerpennya, yakni Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan di Rumah Panggung, Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam ini? (Basabasi, 2018), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020), Malaikat Turun di Malam Ramadan (Siger Publisher, 2021).

Isbedy pernah sebulan di Belanda pada 2015 yang melahirkan kumpulan puisi November Musim Dingin, dan sejumlah negara di ASEAN baik membaca puisi maupun sebagai pembicara. Beberapa kali juara lomba cipta puisi dan cerpen.

Reporter: Andri Rasyid.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses