Kampar, medianasional.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Kampar kembali diguncang isu tak sedap. Seorang oknum Kepala SD Negeri 022 Muara Mahat Baru berinisial S, diduga terlibat skandal perselingkuhan setelah digerebek oleh warga dan perangkat desa di kediamannya di Desa Muara Mahat Baru, Kecamatan Tapung, pada Selasa (27/01/2026).
Oknum wanita berstatus istri orang tersebut kedapatan berduaan dengan seorang pria pensiunan Kepala Sekolah berinisial D, yang juga diketahui telah berkeluarga.
Kronologi Penggerebekan
Kepala Desa Muara Mahat Baru, Azhari, mengonfirmasi kejadian tersebut. Berdasarkan laporan warga yang curiga, Azhari bersama Babinsa dan perangkat desa mendatangi rumah S. Awalnya, S bersikeras menolak masuknya petugas dan membantah ada pria di dalam rumahnya.
“Ibu itu ngotot tidak ada laki-laki di dalam. Namun, saat Kadus dan Babinsa memeriksa area garasi, terdengar suara ponsel berbunyi dari dalam mobil. Di situlah pria berinisial D ditemukan sedang bersembunyi,” ungkap Azhari kepada media, Senin (02/02/2026).
Setelah tertangkap basah, massa yang mulai membeludak membuat pihak desa segera mengevakuasi keduanya ke kantor desa guna menghindari tindakan main hakim sendiri.
Klarifikasi Oknum Kepala Sekolah
Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, S enggan memberikan penjelasan detail mengenai alasan keberadaan pria tersebut di rumahnya saat suami tidak ada. Ia hanya menyatakan bahwa persoalan tersebut telah selesai di tingkat desa.
“Masalah saya sudah selesai di desa. Hanya kesalahpahaman, jadi mohon maaf ya bang saya tidak bisa memberi apa yang abang inginkan,” tulis S dalam pesan singkatnya.
Penyelesaian Secara Kekeluargaan
Pihak desa mengadakan pertemuan lanjutan pada Rabu (28/01/2026) untuk memediasi kedua belah pihak. Menurut keterangan Kades Azhari, kasus ini berakhir secara kekeluargaan setelah suami dari S dan pihak pria sepakat untuk saling memaafkan tanpa adanya tuntutan denda adat.
Meski telah diselesaikan di tingkat desa, perilaku oknum pendidik ini menuai sorotan tajam dari masyarakat. Banyak pihak menyayangkan kejadian “tua-tua keladi” ini karena mencoreng citra institusi pendidikan yang seharusnya menjadi teladan bagi moralitas generasi muda di Kabupaten Kampar.






