Muzani Gelar Temenggung Sangun Kakhai Turut Mengkritik Maskot Pilkada Bandar Lampung 2024

Lampung671 Dilihat

Lampung, medianasional.id – Polemik Maskot Pilkada Bandar Lampung yang diluncurkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bandar Lampung menampakan monyet berpakaian adat telah memantik ketersinggungan berbagai kalangan yang mengatasnamakan Laskar Lampung.

Sebelumnya Panglima Elang Berantai turun dari Gunung Rajabasa menyatakan siap pasang badan jika maskot atau ikon monyet berpakaian adat Lampung tidak diganti dengan ikon yang tak melecehkan adat Lampung.

Kini giliran, Temenggung Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, Kepaksian Pernong, siap turun gunung jika ada yang mau melecehkan adat Lampung.

Menurut Muzani, “maskot KPU yang berpakaian adat Lampung dengan memasang muka monyet ini sangat melecehkan kami sebagai suku Lampung karena kita sama sama tahu perilaku monyet itu seperti apa. Kami suku Lampung punya adab tatacara yang terus kami lestarikan tidak harus merendahkan suku lain, dan kami sangat menghormati keberagaman suku suku yang berada di Provinsi Lampung, dan juga semua masyarakat yang ada di tanah Lampung kami anggap sebagai saudara dan tak pernah kami beda bedakan,” ujarnya. Selasa (21/05).

“Akan tetapi jika ada orang atau pun golongan yang ingin mencoba melecehkan kami sebagai suku Lampung apa lagi mau mengusik adat istiadat kami itu yang kami tidak inginkan dan pasti kami akan tegas membela adat istiadat kami,” lanjutnya.

“Saya menghimbau pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bandar Lampung, secepatnya mengganti maskot tersebut dan meminta maaf pada tokoh tokoh adat Lampung, jangan sampai persoalan seperti ini menjadi polemik, namun jika KPU Badar Lampung tetap mempertahankan maskot tersebut, jangan salahkan kami jika kami bertindak,” tegasnya.

“Saya Muzani Gelar Temenggung Sangun Kakhai Temenggung Kepaksian Pernong yang ada di Kelumbayan Barat Kabupaten Tanggamus, siap mengemban perintah junjungan kami, karena kami sangat menjunjung adat istiadat kami dan kami sangat menghargai adat istiadat suku lain. Kalau bicara ketersinggungan yang jelas kami khususnya suku Lampung pasti merasa tersinggung karena kita sama sama tahu monyet itu apa perilaku monyet itu kaya mana, sedangkan pakaian adat yang dikenakan pada maskot tersebut itu jelas pakaian adat yang sangat kami junjung tinggi karena pakaian itu dipakai saat ada acara adat. Jadi jangan membuat maskot semaunya saja,” tutup Muzani.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses