Brebes, medianasional.id | Hotel Grand Dian Bumiayu baru-baru ini meresmikan replika Gajah Sinomastodon Bumiajuensis dan Kidang Wulung sebagai bagian dari upaya edukasi untuk masyarakat. Keberadaan kedua replika ini bertujuan untuk mengenalkan dan melestarikan warisan sejarah alam di wilayah Brebes Selatan, khususnya mengenai keberadaan fauna purba yang pernah mendiami daerah tersebut. Minggu, 02 Maret 2025
Menurut Anton Bimo Waluyo, sang pembuat rekontruksi fosil yang juga memiliki gelar kekancingan Keraton Surakarta Hadiningrat, Raden Tumenggung Bimodipuro, mengatakan, Sinomastodon adalah genus gomphothere yang punah dari ordo Proboscidea. Fosil Sinomastodon yang ditemukan di Pulau Jawa, termasuk wilayah Brebes Selatan, telah menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan purba di Indonesia. Fosil-fosil Sinomastodon ini ditemukan di beberapa singkapan formasi purba yang meliputi Kecamatan Bumiayu, Tonjong, dan Bantarkawung.
Sinomastodon Bumiajuensis : Warisan Sejarah yang Harus Dilestarikan
Sinomastodon Bumiajuensis pertama kali ditemukan di wilayah Brebes Selatan, tepatnya di singkapan formasi purba yang dikenal sebagai Situs Bumiajuensis. Beberapa formasi yang ditemukan di kawasan ini, seperti Formasi Kalibiuk, Kaliglagah, Mengger, dan Gintung, menyimpan lapisan-lapisan yang kaya akan fosil dan memberikan informasi penting mengenai sejarah kehidupan pada masa Pliosen hingga Pleistosen.
Desain patung Sinomastodon Bumiajuensis yang dipamerkan di taman Hotel Grand Dian Bumiayu ini didasarkan pada rekonstruksi fosil yang dibuat oleh para ahli dan peneliti. Ini merupakan usaha untuk mengenalkan masyarakat, baik pengunjung maupun tamu hotel, mengenai pentingnya pelestarian fauna purba yang pernah menghuni wilayah ini.
Kidang Wulung : Simbol Kearifan Lokal
Tidak hanya Gajah Sinomastodon yang menjadi bagian dari sejarah Brebes Selatan, tetapi juga Kidang Wulung atau rusa. Di beberapa daerah, termasuk di Bumiayu dan Kalijurang, Kidang Wulung dianggap sebagai binatang yang disakralkan. Di Desa Kalijurang, terdapat kisah unik tentang seorang anak laki-laki yang disusui oleh seekor rusa betina. Dari cerita ini, berkembanglah larangan untuk mengkonsumsi daging rusa di kalangan masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap binatang tersebut.
Kidang atau rusa juga pernah hidup di hutan purba yang ada di wilayah Bumiayu, Tonjong, dan Bantarkawung. Fosil-fosil rusa purba yang ditemukan di kawasan ini menjadi bukti bahwa binatang ini telah mendiami wilayah tersebut sejak jutaan tahun yang lalu. Keberadaan fosil ini semakin memperkaya wawasan mengenai sejarah fauna di Brebes Selatan.
Peran Hotel Grand Dian Bumiayu dalam Pelestarian Sejarah
General Manager Hotel Grand Dian Bumiayu, Andi Triantoro, menyatakan bahwa replika Gajah Sinomastodon Bumiajuensis dan Kidang Wulung ini tidak hanya sebagai daya tarik visual, tetapi juga sebagai media edukasi untuk mengenalkan keberadaan situs galuh timur Bumiayu. “Kami berharap dengan adanya replika ini, pengunjung hotel bisa lebih mengenal sejarah purba dan fauna tertua yang pernah hidup di Pulau Jawa, serta meningkatkan minat terhadap wisata sejarah yang ada di sekitar kami,” ujarnya.
Hotel Grand Dian Bumiayu juga menyediakan fasilitas untuk membawa tamu ke lokasi wisata kampung purba Galuh Timur yang terletak dekat dengan hotel. Di sana, pengunjung dapat melihat lebih banyak fosil yang ditemukan di wilayah sekitar, sekaligus mempelajari lebih lanjut tentang situs purbakala yang ada di Brebes Selatan.
Dengan dedikasi yang tinggi untuk edukasi dan pelestarian sejarah alam, replika Gajah Sinomastodon Bumiajuensis dan Kidang Wulung di Taman Hotel Grand Dian Bumiayu diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan sejarah alam Indonesia.





