Mendadak Monolog, Panggung Kritik Sosial Tepis Garis Kolektif Menggugat Realitas

KENDAL -medianasional.id– Mendadak Monolog, sebuah pementasan teater monolog yang digagas Tepis Garis Kolektif—gabungan pegiat teater di Kabupaten Kendal—hadir sebagai ruang ekspresi sekaligus kritik sosial yang tajam terhadap realitas kehidupan yang dinilai kian problematis.

Pementasan tersebut akan digelar dalam dua sesi, yakni pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB, pada Sabtu (10/1/2026), bertempat di Gedung Balai Kesenian Rakyat (BKR) Kendal, Jawa Tengah.

Pertunjukan ini terbuka untuk publik dan diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara seniman dan masyarakat. Kegiatan tersebut, juga direncanakan akan dihadiri Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi.

Pertunjukan ini menampilkan dua karya monolog yang menyoal isu pendidikan dan kebebasan berpendapat yang dinilai kian tergerus.

Karya pertama berjudul Prodo Imitatio karya Artur S. Nahlan, disutradarai Faozan Suwage dan dibawakan aktor Syukron Mubarok. Monolog ini mengangkat fenomena maraknya praktik jual beli gelar akademik yang selama ini menjadi rahasia umum di tengah masyarakat.

Melalui Prodo Imitatio, penonton diajak menyelami ironi dunia pendidikan ketika gelar diperdagangkan layaknya komoditas.

Naskah ini menyinggung kasus-kasus yang ramai diperbincangkan publik, seperti sosok “Pak J”, sekaligus mempertanyakan keadilan penegakan etika pendidikan yang kerap hanya menyorot penjual, sementara pembeli gelar palsu seolah luput dari tanggung jawab moral maupun hukum.

Karya kedua berjudul Tukang Kritik Mati (?), merupakan adaptasi dari naskah Matinya Toekang Kritik karya Agus Noor. Pertunjukan ini disutradarai Venny Zega dan diperankan oleh aktor Alafan Aflah dengan pendekatan monolog yang intens dan reflektif.

Naskah ini bercerita tentang upaya pembungkaman terhadap sosok tukang kritik—figur yang berani mempertanyakan keadaan dan ketidakadilan.

Meski tokohnya bisa disingkirkan, dicela, bahkan dilupakan, kritik dalam cerita ini digambarkan tak pernah benar-benar mati.

Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa kritik hanya akan terus berganti wajah dan nama, mengikuti zaman, namun suaranya tetap hidup selama ketidakadilan masih berlangsung.

Monolog ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berpikir dan bersuara merupakan bagian penting dalam menjaga nurani sosial.

Melalui Mendadak Monolog, Tepis Garis Kolektif menegaskan peran teater bukan sekadar hiburan, melainkan medium perlawanan kultural dan ruang dialog publik.

Pementasan ini diharapkan mampu menggugah kesadaran penonton untuk lebih kritis terhadap fenomena sosial di sekitarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses