Membangun Wartawan Berakhlak dan Fondasi Membangun Negeri: Refleksi Puncak Resepsi Hari Pers Nasional 2025 di Blora

Jawa Tengah1145 Dilihat

Semarang, medianasional.id – Di tengah kemajuan pesat teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI), tantangan bagi wartawan semakin besar. Namun, Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Jateng, Ema Rachmawati, menegaskan bahwa integritas adalah kunci utama bagi para insan pers untuk tetap relevan dan melaksanakan tugas mulia mereka dengan baik.

Dalam sambutannya di Puncak Resepsi Hari Pers Nasional (HPN) 2025 HUT ke-79 PWI Tingkat Jateng, yang digelar pada Sabtu malam, 15 Februari 2025, Ema menyampaikan pesan penting bahwa pers harus mampu menggaungkan hak dan kebutuhan masyarakat serta menjadi edukator yang membuka wawasan publik.

Dalam acara tersebut, Ema mengungkapkan bahwa pers memiliki peran krusial dalam mengubah perilaku masyarakat. “Pers sesungguhnya punya peran mengubah perilaku masyarakat, maka dibutuhkan komitmen dan effort kuat agar selalu menjaga integritas,” ujarnya.

Sebagai bagian dari puncak perayaan HPN 2025, acara ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Bupati Blora Arief Rohman, Komisioner Bawaslu Jateng Sosiawan, serta perwakilan PWI kabupaten/kota se-Jateng.

Ketua PWI Jateng, Amir Machmud, menyatakan bahwa penyelenggaraan HPN 2025 di Blora memiliki makna bersejarah. Dengan mengunjungi destinasi wisata seperti Goa Terawang, Desa Wisata Bangsri, Kampung Samin, dan Kopi Santen, peserta HPN 2025 merasakan langsung pesona alam dan budaya yang dimiliki Blora.

“Ini hanya muncul jika daerah dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki visi besar untuk membuat perubahan dibanding sebelumnya,” ungkapnya.

Amir juga berharap hubungan antara pers dan Pemkab Blora semakin kuat, dengan semangat untuk “sesarengan mbangun Blora” (bersama-sama membangun Blora).

Dalam orasi jurnalistik yang disampaikan oleh Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang, beliau banyak membahas tentang posisi pers di tengah gelombang kecerdasan buatan (AI). Menggunakan filosofi Jawa dan cerita pewayangan, Prof. Pulung menegaskan bahwa meskipun teknologi berkembang pesat, pers tetap memiliki peran yang tak tergantikan.

“Robot-robot cerdas itu nantinya harus dirangkul bukan dijadikan musuh,” ujarnya, menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam menghadapi AI.

Prof. Pulung mengungkapkan, meskipun kemajuan teknologi seperti media sosial dan AI memberikan akses cepat untuk informasi, verifikasi tetap menjadi tugas utama pers.

 “Informasi yang cepat tersebar bisa salah, siapa yang harus memverifikasi? Ya pers,” tandasnya.

Ia juga mengingatkan akan bahaya hoaks yang bisa menyebar begitu cepat, dan di sinilah peran pers sebagai “penyemprot nyamuk” untuk mengeliminasi ketidakbenaran sebelum menimbulkan kerusakan lebih lanjut.

Dalam kesempatan tersebut, Sasongko Tedjo, Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, juga mengingatkan bahwa meskipun teknologi AI dapat mempermudah pekerjaan wartawan, fungsi-fungsi esensial dalam jurnalisme tetap harus dijalankan oleh manusia.

“AI bikin kerja wartawan begitu mudah dalam investigasi, tapi kerja yang sesuai Kode Etik Jurnalistik hanya wartawan yang harus melakukannya,” jelasnya.

Sebagai penutup, PWI Jateng memberikan penghargaan kepada berbagai pemenang lomba jurnalistik, lomba video city tour, dan lomba menulis untuk guru.

Pemenang lomba jurnalistik di antaranya Puput Puspitasari, Marni Utamining, dan Alkomari. Selain itu, Bupati Blora Arief Rohman, Prof. Pulung, serta beberapa PWI Kabupaten juga mendapatkan penghargaan atas kontribusi mereka dalam mendukung perkembangan pers di Jateng. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses