Melalui Kuda Kepang, Desa Pakujati Perkuat Pelestarian Budaya Jawa

Brebes, Jawa Tengah1554 Dilihat

Brebes, medianasional.id – Kesenian kuda kepang atau yang lebih dikenal dengan sebutan ebeg kembali dipentaskan di Dusun Karang Bawang, Desa Pakujati, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Sabtu (11/7/2026).

Pagelaran tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat dalam memperkuat pelestarian budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.

Kuda kepang merupakan seni tradisional masyarakat Jawa yang telah berkembang dan dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Selain menjadi hiburan rakyat, kesenian ini juga mengandung nilai sejarah, kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketua Seni Kuda Kepang Wahyu Sejati Muda (WSM) Desa Pakujati, Mbah Darjo, mengatakan pagelaran tersebut merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya Nusantara agar tetap hidup dan dicintai oleh generasi penerus.

“Pagelaran kuda kepang ini kami gelar sebagai wujud pelestarian budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Seni tradisional ini adalah identitas masyarakat yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujarnya.

Menurut Mbah Darjo, regenerasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional. Karena itu, kelompok seni Wahyu Sejati Muda secara aktif melibatkan anak-anak dan pemuda dalam setiap pertunjukan sebagai langkah pewarisan budaya.

“Kami sengaja mengajak generasi muda untuk ikut berlatih dan tampil. Harapannya, mereka memiliki rasa cinta terhadap budaya sendiri dan kelak mampu meneruskan kesenian kuda kepang kepada generasi berikutnya,” katanya.

Kepala Desa Pakujati, Rastam, SH, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat berjalan tanpa adanya regenerasi. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar kesenian kuda kepang tetap lestari dan terus berkembang.

“Dalam menjaga dan melestarikan budaya, khususnya kesenian kuda kepang, harus ada regenerasi. Anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk belajar dan berkarya agar kesenian ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Desa Pakujati,” ungkap Rastam.

Ia menambahkan, pelestarian budaya membutuhkan sinergi antara masyarakat, pelaku seni, dan pemerintah daerah. Dukungan bersama melalui pembinaan, penyelenggaraan pagelaran seni, serta pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda menjadi langkah penting untuk menjaga eksistensi kesenian tradisional.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Pakujati, Ust. Darmo, menilai kuda kepang bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus terus dijaga bersama.

“Kuda kepang mengajarkan nilai kebersamaan, disiplin, dan penghormatan kepada warisan leluhur. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya modern, sementara budaya daerahnya sendiri mulai ditinggalkan. Kesenian seperti ini harus terus didukung agar tetap hidup di tengah masyarakat,” tuturnya.

Melalui pagelaran tersebut, Desa Pakujati menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian budaya Jawa. Dengan melibatkan generasi muda sebagai penerus, masyarakat berharap kesenian kuda kepang tidak hanya tetap eksis, tetapi juga terus berkembang sebagai warisan budaya yang membanggakan Kabupaten Brebes. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses