Jakarta, Medianasional.id – Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri kembali menggebrak podium dengan pernyataan pedas yang mengguncang ruang publik. Dalam sambutannya saat membuka pameran foto Guntur Soekarnoputra di Galeri Nasional, Sabtu (7/6), Megawati menyentil tajam sikap aparat kepolisian yang dinilainya terlalu mudah memanggil warga hanya karena mengemukakan pendapat.
“Orang kalau saya tanya, kenapa kamu diam saja sih, punya mulut? Lah zaman sekarang gampang banget dipanggil polisi. Emangnya polisi itu siapa? Memangnya warga terhormat di Republik ini? Tidak, tidak, tidak!” tegas Mega dengan nada tinggi yang memecah keheningan ruangan.
Pernyataan itu sontak menyita perhatian hadirin. Megawati, yang dikenal tak segan menyuarakan isi hati, tampak kecewa atas kondisi demokrasi hari ini, di mana kritik kerap dibalas dengan intimidasi.
Kritik Tajam: Polisi Dinilai Menyimpang dari Jalurnya
Megawati mengingatkan bahwa dirinya adalah sosok yang memisahkan Polri dari TNI ketika menjabat sebagai presiden. Namun kini, menurutnya, institusi kepolisian telah keluar dari jalur reformasi yang dulu diperjuangkan.
“Hukum ya hukum. Jadi kalau kalian hanya menutup diri, membuat jarak dari rakyat, kalian itu siapa?” ucap Megawati, mempertanyakan moral dan posisi aparat di tengah masyarakat.
Menyinggung Luka Lama: “Orde Baru Bikin Orang Bodoh”
Tak hanya menyorot situasi hari ini, Megawati juga mengulik masa lalu yang kelam—era Orde Baru—yang menurutnya masih meninggalkan trauma dalam kehidupan berbangsa.
“Republik ini dibangun dengan susah payah, penderitaan, air mata. Tapi lihat, pendirinya, Soekarno, diperlakukan tidak adil. Karena kuatnya Orde Baru, banyak orang jadi takut bicara. Dibuat bodoh, dibungkam,” katanya dengan suara bergetar, menyulut emosi sejarah yang belum selesai.
Megawati bahkan menyentil bagaimana masyarakat kini takut menyuarakan kebenaran karena bayang-bayang kekuasaan, tak jauh berbeda dengan masa-masa gelap Orde Baru.
Catatan yang Mengusik Nurani
Pidato Megawati ini menjadi alarm keras bagi aparat dan penguasa. Ia tak sedang bernostalgia, tapi menyuarakan peringatan: bahwa demokrasi dan keberanian rakyat harus terus dijaga.
“Who am I?” ujar Mega dalam bahasa Inggris, sembari menunjuk ke arah dirinya. “Tanyakan, siapa kita sebenarnya di republik ini?”
Sebuah sindiran bernyawa yang tak hanya menampar aparat, tapi juga menggugah kita semua: Apakah kita masih punya nyali untuk bicara benar?






