Bandarlampung, medianasional.id – Maskot Pilkada 2024 Kota Bandar Lampung yang diluncurkan KPU Bandar Lampung pada Minggu (19/05) menuai polemik dan mendapat berbagai reaksi serta kritikan dari berbagai pihak.
Salah satunya Akademisi Yunada Arfan seorang dosen di Bandar Lampung turut buka suara, Ia menyebut bahwa Maskot merupakan figur fiksional yang dapat membangun Identitas.
“Maskot merupakan figur fiksional yang dapat membangun identitas serta menciptakan dan mengekspresikan personalitas brand yang diwakilinya. Maskot juga dapat membantu target pemasaran untuk mengidentifikasi, mengingat, dan memahami suatu brand,” jelas Yunada.
Ia menambahkan, “Logo dan maskot itu ada perbedaan. Maskot pendukung logo tetapi memang maskot untuk mempertajam brand tetapi mewakili suatu entitas. Nah, yang sudah umum di Lampung kan Gajah,” ucapnya.
Menurut Yunada, untuk pemilihan Maskot Pilkada 2024 semestinya dicarikan yang betul-betul pas.
“Untuk Bandar LAmpung mestinya dicari yang pas, yang dalam maskot tentunya memunculkan karakter tertentu. Sedangkan untuk gambar monyet tentunya harus bisa diklarifikasi oleh yang memunculkan arti atau filosofi hewan tersebut. Kenapa monyet yang harus ditonjolkan dan bukan yang lain,” ungkapnya.
“Sebab maskot tidak mesti harus binatang, meskipun pada dasarnya maskot itu kadang muncul atau tampil dalam bentuk gambar yang lucu. Saya pribadi kurang setuju jika monyet yang jadi maskot, apalagi harus diberi pakaian adat,” imbuhnya.
“Saran saya, KPU atau yang bertanggung jawab atas hal ini berikan klarifikasi. Toh ini sekedar maskot dan boleh saja untuk diganti. Apalagi sudah banyak yang berkomentar dan keberatan atas maskot tersebut,” pintanya.
“Kera atau monyet adlah binatang yang serakah. Ironisnya setelah melakukan pelanggaran mereka tidak merasa bersalah, malah membanggakan kesalahan yang telah diperbuatnya. Pipi kiri dan kanan penuh dengan makanan, tangan kiri dan kanan memegang makanan, tapi masih beringas kalau ada kera lain yang akan mengambil makanan yang tersisa. Ketika keserakahan mendominasi akal pikiran, hati nurani akan sulit mengendalikan tingkah laku. Bahkan hubungan persaudaraan sekalipun tidak mampu membukakan mata hati. Demikianlah sifat kera yang bisa menjadi tabiat dan watak manusia,” urainya.






