Mahasiswa Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Keluhkan Mahalnya Biaya Wisuda Namun Tidak Disediakan Toga

Kampar, Riau418 Dilihat

Kampar, medianasional.id – Setelah menjalani pendidikan S2 selama 2 tahun, seperti mahasiswa pada umumnya, HO mahasiswi Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Bangkinang prodi Pendidikan Dasar hendak mengikuti wisuda untuk memperoleh gelar Magister, namun betapa kagetnya ketika hendak mendaftar wisuda melalui aplikasi kampus Ia harus membayar biaya wisuda sejumlah Rp. 2.967.000 (Dua Juta Sembilan Ratus Enam Puluh Tujuh Ribu Rupiah) yang menurutnya jumlah tersebut terbilang mahal. Sementara rincian biaya wisuda tidak ada, bahkan toga untuk wisuda tidak di sediakan.

 

 

Ia pun mempertanyakan biaya Wisuda yang begitu fantastis kepada salah seorang Dekan, namun HO tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari salah seorang Dekan tersebut.

 

“Saya Mahasiswi Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai jurusan S2 Pendidikan Dasar ingin mengadukan tentang biaya wisuda yang sangat mahal di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, yang mencapai Rp. 2.967.000 per mahasiswa dengan jumlah peserta wisuda di gelombang 1 sebanyak 504 orang. Wisuda tersebut direncana akan dilaksanakan pada tanggal 04 Oktober 2025, namun tidak ada rincian biaya yang jelas untuk apa saja,” ujarnya melalui pesan WhatsApp kepada awak media. Minggu malam, (07/09/25).

 

“Saya merasa kecewa karena tidak ada transparansi tentang biaya yang dikenakan serta toga wisuda tidak disediakan oleh universitas, padahal biaya wisudanya terbilang mahal. Pengalaman saya wisuda sebelum ini D2 PGSD UNRI pihak Kampus yang menyediakan toga dengan rincian biaya sewa toga, kemudian wisuda kembali S1 PGSD Universitas Terbuka dikasih toga baru dengan rincian biaya wisuda untuk membeli toga. Sementara wisuda S2 di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai ini biaya wisuda terbilang mahal mahasiswa diminta menyediakan toga secara mandiri, saya sudah berusaha bertanya masalah rincian biaya wisuda tersebut kepada salah seorang dosen sekaligus menjabat sebagai Dekan di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai berinisial N tetapi jawaban yang beliau berikan sangat mengecewakan dan terkesan menutupi dengan cara menjawab tidak tahu dan melempar pertanyaan kepada pihak Universitas,” jelas HO.

 

“Ironisnya lagi, bahkan Dekan tersebut juga mengatakan saya harus segera melunasi uang wisuda tersebut dalam 2 hari, jika tidak maka nama saya akan digantikan oleh peserta wisuda yang lain. Beliau juga mengatakan dari 504 jumlah peserta yang akan mengikuti wisuda cuma saya sendiri yang bertanya tentang rincian penggunaan biaya wisuda. Saya merasa sangat kecewa dan juga merasa terintimidasi oleh jawaban yang diberikan Dekan di tempat saya menimba ilmu ini. Saya hanya bertanya dan berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pihak universitas serta bisa segera menyelesaikan studi saya di Universitas tersebut dengan disediakan toga tanpa saya mencari toga sendiri dengan biaya wisuda yang saya bayarkan,” lanjutnya.

 

“Saya juga merasa sangat kecewa dengan layanan perkuliahan di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai ini, terutama dalam hal penyampaian informasi tentang kegiatan perkuliahan dan pelaksanaan kegiatan perkuliahan itu sendiri. Contohnya seperti informasi tentang kegiatan perkuliahan di grup WhatsApp, padahal di grup tersebut beranggota salah seorang dosen yang merupakan pembimbing Mahasiswa S2. Tetapi beliau tidak pernah memberikan informasi kepada kami di grup tersebut, malah informasi tentang perkuliahan kami dapat dari sesama mahasiswa. Selain itu tentang kegiatan perkuliahan, jadwal kuliah ada tetapi di semester 4 kemarin dosen tidak memberikan perkuliahan terhadap kami yang mengakibatkan kami kesulitan membuat tesis, setiap saya tanya kepada dosen pembimbing tesis saya. Beliau menjawab lihat di internet atau baca petunjuk pembuatan tesis yang diberikan pihak Universitas. Itu saja jawaban dosennya pak,” ungkap HO.

 

Di tempat terpisah, untuk keseimbangan pemberitaan, awak media mencoba mengkonfirmasi salah seorang Dosen yang juga menjabat sebagai Dekan di Universitas Tuanku Tambusai berinisial N. Namun dosen tersebut mengatakan, tidak memiliki wewenang untuk menjawab.

 

“Mohon maaf itu bukan wewenang saya untuk menjawab Pak. Mungkin bisa ke Humas UP atau langsung ke WR 2 ya pak, saya kirimkan nomornya. Jangan sampai mendengar laporan ibu inisial H saja, nanti bapak ataupun kampus jadi tidak baik hubungannya,” kecamnya kepada awak media. Jumat, (05/09/25).

 

Sementara itu, awak media mencoba mengkonfirmasi Humas dan WR2 Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai melalui pesan WhatsApp. Namun Humas membalas akan menjawabnya di jam kerja.

 

“Waalaikumsalam pak, maaf, kami tindaklanjuti di jam kerja ya pak,” tulis pesan Humas pada Jumat, (05/09/25).

 

Di hari lain, awak media kembali menghubungi Humas Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai melalui pesan WhatsApp kapan bisa menghadap untuk konfirmasi, namun Humas Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai menjawab masih ada kuliah umum.

 

“Maaf pak masih ada acara kuliah umum seharian, narasumber dari Jakarta, masih belum bisa bertemu,” tuturnya. Senin (08/09/25).

 

Sampai berita ini ditayangkan, belum ada jawaban dari Humas Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai kapan bisa untuk ditemui.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses