Kampar, redaksimedinas.com – Terkait status Facebook yang di posting oleh Rudi Hartono Lase Ketua DPC. LSM Penjara Kabupaten Kampar, beberapa hari yang lalu tentang “peran pers/wartawan adalah memberitakan setiap peristiwa atau kejadian yang patut untuk dipublikasikan agar publik dapat mengetahuinya terutama sekali adalah masyarakat yang bersangkutan. Namun dalam hal ini, kami dari LSM Penjara Kabupaten Kampar sangat menyayangkan sekali jika ada oknum wartawan menjadi pahlawan kesiangan untuk membela Kepala Desa Ranah Sungkai terkait temuan LSM Penjara’.
.
Adi Yanto, kepala desa Ranah Sungkai, kecamatan XIII Koto Kampar membantah hal tersebut dan mengatakan, bahwa tidak ada oknum wartawan yang jadi pahlawan kesiangan untuk dirinya, kepada kru Medinas, Senin (13/11) sore pukul 16.00 Wib. Di kediaman Indra Nazarudin Wakil Ketua DPC. Gabungan Wartawan Indonesia ( GWI) kabupaten Kampar.
.
Selanjutnya Adi Yanto kepala desa Ranah Sungkai menerangkan kronologisnya awal perseteruannya dengan DPC. LSM Penjara kabupaten Kampar kepada kru Medinas. “Bahwasanya APBDES Desa kita didapat oleh salah seorang masyarakat kita sendiri. Entah dari mana dapatnya saya gak tau, setelah itu kemungkinan masyarakat kita ini sakit hati sama saya. Lalu beliau ini mencari kesalahan saya, dan kemarin masyarakat tersebut mengundang saya ke rumahnya”, ungkapnya.
.
“Lalu tidak saya datangi undanganya, masa iya masyarakat yang mengundang saya ke rumahnya? Kenapa bukan tokoh Masyarakat yang mengundang saya ke rumahnya? Karena saya melihat juga di situ ada salah seorang mantan oknum LSM Penjara, tapi beliau kalau menurut sepengetahuan saya selama ini sudah tidak lagi menjadi anggota LSM Penjara. Yang anehnya lagi di dalam surat undangan tersebut tidak pakai Cap resmi, maka dari itu undangannya tidak saya penuhi. Lalu karena tidak dapat jalan lagi, mungkin beliau mengundang Rudi Hartono Lase Ketua DPC. LSM Penjara Kabupaten Kampar untuk turun ke bawah. Tanpa sepengetahuan saya beserta perangkat desa Ranah Sungkai, mereka mengukur dan menilai pengerjaan kami”, jelasnya.
.
Lanjutnya, “dan lagi pula pengerjaan kami belum selesai, karena anggaran tahap kedua belum ada pencairan. Kalau biasanya kami tahap pertama memang seperti itu, lalu masuk pencairan dana ADD/DD tahap kedua baru di kerjakan semuanya. Setelah itu kami finishing pembersihan, mana yang tidak bagus pengerjaannya kami perbaiki semuanya, dan seperti itulah teknis pengerjaan kami”, terangnya.
.
Kades pun mengungkapkan, “saat pertemuan saya dengan Rudi Lase di salah satu warung kopi simpang empat Desa Ridan Permai, kecamatan Bangkinang kota, membahas mengenai pembangunan Kantor Desa Ranah Sungkai. Rudi Lase bertanya dengan saya, seperti apa pengerjan kantor Desa Ranah Sungkai, apa sudah selesai pengerjaannya pak kades? Lalu saya jawab, belum selesai lagi Pak. Yang kedua Rudi Lase bertanya dengan saya mengenai pembangunan parkir pasar, berapa ketebalan lantainya Pak Kades? Lalu saya jawab lagi, ketebalannya 10 cm pak. Lalu Rudi memprotes, kenapa masakan semennya putih pak Kades? Lalu saya jelaskan lagi, kalau masakan semen kami selama ini 1 sak semen, 3 angkong pasirnya, dan itu pun sudah padat masakan semennya pak”, jelasnya kepada Rudi Lase.
.
Selanjutnya pertanyaan Rudi Lase kepada Kades tentang pengadaan produk unggulan Bibit Tanaman Kokoh, “kenapa bibit tanaman kokoh tidak ada Pak Kades? Sedangkan dirancangan Anggaran Belanja (RAB), sudah pak Kades tandatangani? Baru saya jelaskan lagi sama Rudi Lase, bahwasanya itu harus saya tandatangani. Kalau tidak saya tandatangani, untuk pencairan Anggaran tahap kedua uangnya tidak cair”, jawabnya.
.
“Jadi itulah semua pertanyaan Rudi Lase sama saya, selanjutnya masuklah waktu Shalat Jum’at. Dan setelah itu kami pun pergi Shalat ke Masjid, lalu Rudi Lase bicara dangan Indra empat mata. Seperti itulah kronologis ceritanya, saya pun tidak tahu apa yang beliau bicarakan”, terangnya.
.
Selanjutnya Indra Nazarudin mengatakan kepada Kru Medinas dalam pembicaraan dengan Rudi Lase empat mata tersebut, kepala desa tidak boleh mendengar. “Yang disampaikan Rudi Lase sama saya masalah uang sewa kantornya dengan nominal tidak perlu saya sebutkan. Kalau untuk biaya sewa kantor sebanyak itu, kepala Desa Ranah Sungkai tidak sanggup membayarnya. Karena kesalahan saya disitu apa? Ujar kepala desa Ranah Sungkai kepada saya. Selanjutnya Kepala Desa Ranah Sungkai mengatakan kepada saya, kalau sebanyak itu saya gak sanggup bang Indra. Tapi kalau beliau minta sumbangan semampu saya, secara pribadi saya siap bantu beliau ujar kepala desa Ranah Sungkai kepada Saya”, terang Indra.
.
“Dan menyangkut status Facebook yang dimuat oleh Rudi Lase tersebut, yang mengatakan saya jadi pahlawan kesiangan itu tidak benar. Saya selaku Wakil ketua DPC. GWI Kampar, bekerja tetap Profesional. Tidak pernah menjadi pahlawan kesiangan di desa mana pun, kenapa saya bilang tidak jadi pahlawan kesiangan di sini? Ketika Rudi Lase mengajak saya berbicara empat mata, baru Saya ikut. Jadi di mana letaknya saya jadi pahlawan kesiangan? Saya tidak mencampuri pembicaraan Rudi Lase dengan kepala desa tersebut, hanya Rudi Lase meminta difasilitasi empat mata dengan saya terkait uang sewa kantornya. Apa yang Rudi sampaikan Sama saya itu, ternyata kepala desa Ranah Sungkai tidak sanggup memenuhi keinginannya”. Sambil tertawa Indra Nazarudin mengatakan kepada Kru Medinas, “Apakah harus saya yang bayar sewa kantornya?”
.
“Selanjutnya yang perlu kita ketahui bersama, selama ini saya tidak pernah membeking orang yang salah. Dan saya pun tidak bisa membeking orang yang salah, tetapi kalau ada pemberitaan yang miring, barulah kita masuk di ranah pemberitaannya. Kemudian kalau orang menuduh saya jadi pahlawan kesiangan, itu pikirannya orang yang sangat bodoh menurut saya. Jadi harapan saya selaku Wakil Ketua GWI Kampar, mengajak dan menghimbau kepada wartawan/ LSM mau pun organisasi yang ada di kabupaten Kampar, mari kita bekerja secara Profesional”, ujar Indra Nazarudin kepada Kru Medinas.
.
Selanjutnya Medinas konfirmasi dengan Rudi Lase ketua DPC LSM Penjara melalui telepon seluler Ia mengatakan, tidak pernah meminta uang sewa Kantor sama kepala Desa. “Tapi Kepala Desa itu yang minta kepada kami, agar ini diselesaikan”, ungkapnya.
.
“Dan saya mengatakan seperti apa Pak Kades? Bapak menjawab secara tertulis, atau Intensif. Dan kita pun melayangkan surat Verifikasi hari ini, saya ucapkan terimah kasih atas undangannya pak kades. Karena dalam ucapan Indra Nazarudin mengatakan bahwa saya mengundang kepala desa Ranah Sungkai, sementara kepala desa itu yang menginginkan pertemuan pada hari jum’at beberapa hari yang lalu kepada saya. Jadi saya katakan tidak usah lagi pak kades, karena dari Desa Ranah Sungkai ke Bangkinang lumayan jauh jaraknya. Kepala desa itu menjawab kepada saya, gak apa- apa Pak Rudi Lase. Kebetulan juga saya ada urusan ke Bangkinang, mau jumpa dengan bang Dirman Wartawan Detak Kampar ujar kepala desa Ranah Sungkai kepada saya”, jelas Rudi.
.
Kalau begitu gak masalah, yang akhirnya aktifitas kita setiap sore selalu main Badminthon di kantor Kejari Kampar. Selanjutnya beliau menghubungi Sekretaris saya, yang mengatakan lagi di mana posisinya pak? Lalu sekretaris saya menjawab berdasarkan Instruksi saya, bahwa posisi kami berada di kantor Kejaksaan Kampar sedang melakukan aktivitas Olah Raga Batminthon.
Selanjutnya menurut Rudi, “Kades menghubungi Saya melalui Sekretaris untuk mengajak bertemu yang intinya Kepala Desa Ranah Sungkai tersebut meminta kepada Kami, masalah ini tidak mencuat sampai ke atas. Dan yang kedua, sewaktu Kepala Desa Ranah sungkai ingin bergegas berangkat Shalat Jum’at, beliau menyalamkan uang minyak kepada saya. Dan saya pun tidak tahu, uang minyaknya berapa? Selanjutnya saya tolak, Maaf Pak Kades saya tidak meminta ini ujar saya sama kepala desa Ranah Sungkai”, terang Rudi Lase kepada Kru Medinas dalam telepon Seluler. (Robinson)






