KENDAL – Kabupaten Kendal masih menjadi salah satu daerah dengan angka kematian ibu (AKI) tertinggi di Jawa Tengah. Hingga April 2026, Kendal berada di peringkat ketiga setelah Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Brebes. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kendal bersama RSUD dr H Soewondo menggelar On the Job Training (OJT) penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal bagi tenaga kesehatan sebagai upaya meningkatkan kompetensi pelayanan sekaligus menekan angka kematian ibu dan bayi.
Pelatihan diikuti tenaga kesehatan dari seluruh puskesmas di Kabupaten Kendal. Setiap tim terdiri atas dokter umum, bidan, dan perawat yang mendapatkan pendampingan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) serta dokter spesialis anak (SpA) melalui pembelajaran praktik penanganan kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkesda Kabupaten Kendal, Anita Dianawati, SKM, M.Kes (Epid) mengatakan, rendahnya angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan daerah. Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Salah satu caranya adalah meningkatkan kompetensi dokter, bidan, dan perawat yang memberikan pelayanan persalinan di puskesmas melalui pelatihan seperti ini,” ujar Anita, Jumat (8/7/26).
Ia menjelaskan, OJT dilaksanakan dalam dua angkatan. Angkatan pertama berlangsung pada 1–3 Juli 2026, sedangkan angkatan kedua digelar pada 9 Juli 2026. Dinkesda menghadirkan narasumber yang kompeten agar peserta memperoleh pembaruan ilmu dan keterampilan sesuai perkembangan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Data Dinas Kesehatan Daerah Kendal
Berdasarkan data Dinkesda, angka kematian ibu di Kabupaten Kendal pada 2022 tercatat 19 kasus atau 137,31 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2023 turun menjadi 18 kasus atau 134,52 per 100.000 kelahiran hidup, namun kembali meningkat pada 2024 menjadi 22 kasus atau 194,48 per 100.000 kelahiran hidup. Pada 2025 angka tersebut berhasil ditekan menjadi 11 kasus atau 95,6 per 100.000 kelahiran hidup, di bawah target RPJMD.
Sementara angka kematian bayi pada 2022 tercatat 100 kasus atau 7,22 per 1.000 kelahiran hidup, meningkat menjadi 131 kasus pada 2023, kemudian 149 kasus pada 2024. Pada 2025 jumlahnya turun menjadi 94 kasus atau 10,27 per 1.000 kelahiran hidup. Hingga awal Mei 2026, tercatat tujuh kasus kematian ibu dan 49 kasus kematian bayi. Pemerintah Kabupaten Kendal menargetkan jumlah kematian ibu tidak melebihi 11 kasus serta terus menekan angka kematian bayi.
Anita mengungkapkan, pada 2025 Kabupaten Kendal menjadi daerah dengan angka kematian ibu tertinggi di Jawa Tengah. Memasuki 2026 hingga April, Kendal masih berada di peringkat ketiga tertinggi setelah Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Brebes. Kasus kematian ibu tersebar di wilayah kerja Puskesmas Rowosari 1, Cepiring, Gemuh 1, Kendal 2 sebanyak dua kasus, Kendal 1, dan Patebon. Sebanyak lima ibu meninggal di rumah sakit, sedangkan dua lainnya meninggal dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
“Target kami angka kematian ibu terus ditekan, bahkan kalau bisa tidak ada lagi kematian ibu. Melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, kami optimistis pelayanan akan semakin baik sehingga keselamatan ibu dan bayi semakin terjamin,” tegas Anita.
Kegiatan OJT dibuka Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD dr H Soewondo Kendal, dr. Mohammad Wibowo. Ia mengatakan pelatihan yang diikuti 90 peserta dalam dua sesi tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara RSUD dr H Soewondo dan Dinkesda Kendal untuk meningkatkan keterampilan klinis tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan pada ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi baru lahir. “Harapannya pelayanan di puskesmas semakin optimal sehingga mampu menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Kendal,” pungkasnya.(#)






