Lombok Barat, medianasional – Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Lombok Barat terus berinovasi menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak serta mengatasi stunting, Kamis 31 Juli 2025.
Kepala DP2KBP3A Lobar, Arif Suryawirawan, menjelaskan bahwa pihaknya aktif bekerja sama dengan perguruan tinggi, budayawan, dan tokoh agama untuk mengkaji masalah kekerasan yang dapat menimpa siapa saja.
” Kita mendorong korban berani melapor karena peningkatan kasus terdata justru berarti keberanian masyarakat untuk speak up semakin tinggi. Unit PPA DP2KBP3A Lobar, dengan dukungan penuh Bupati dan Wakil Bupati Lobar siap mendampingi korban dan mencegah terulangnya insiden,”Tegasnya
Untuk Sosialisasi gencar dilakukan di Sekolah dan Desa, bahkan mendorong pembentukan unit penanganan kekerasan di tingkat Desa.
Adapun dalam penanganan stunting, DP2KBP3A Lobar berfokus pada pencegahan. Tim pendamping secara rutin memeriksa ibu hamil berisiko dan menindaklanjuti hasil Posyandu. Inisiatif terbaru dari Bupati adalah pemberian susu khusus bagi anak terindikasi stunting.
“Anak-anak ini akan diskrining di Puskesmas, bahkan dirujuk ke dokter spesialis jika diperlukan. Setelah masalah kesehatan teratasi, bantuan susu akan diberikan selama tiga bulan untuk evaluasi,” Tambahnya
Terkait pernikahan usia dini, DP2KBP3A Lobar Arif melakukan sosialisasi bahayanya ke anak SMP dan mencoba mediasi kasus yang terjadi. Arif menegaskan, meskipun ada dispensasi pengadilan, pernikahan dini membawa banyak risiko, seperti potensi anak stunting, tingginya angka perceraian, dan Putus Sekolah.






