
BATANG, medianasional.id
Tidak lama lagi pesta demokrasi lima tahunan digelar di seluruh Indonesia tanpa kecuali di Kabupaten Batang, sesuai dengan rencana Pemilu Legislatif, Presiden dan Pilkada akan berlangsung di tahun 2024. Geliat manuver perpolitikan mulai terasa, baik calon legislator hingga yang berkeinginan mencalonkan diri masuk dalam bursa calon orang nomer satu di pemerintah kabupaten Batang mulai kasak kusuk.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Batang, Dr. Agung Wisnu Barata mengatakan, Politik harus memanusiakan manusia, jangan sampai memberlakukan manusia seperti barang. Seperti penggunaan money politic atau politk uang. Jika cara itu dilakukan, manusia sudah diposisikan sebagai barang yang bisa dibeli Senin, (6/3/2023).
Menyoroti perihal politik transaksioanal yang kini sudah menjadi budaya di masyarakat, meminta seluruh lembaga penyelanggara Pemilu dan Stakeholder untuk terus menerus melakukan edukasi politik terhadap masyarakat.
” Politikus yang memberi uang jangan dipilih. Karena dia memperlakukan manusia sebagai alatnya dia. Seolah-olah barang yang bisa dibeli. Dan masyarakat jangan berharap dan menuntut lebih kepada wakil rakyat, jika suaranya sudah dibeli,” ungkap Dr. Agung Wisnu Barata.
Lebih lanjut Agung Wisnu Barata menjelaskan, Penyelanggaran Pemilu tidak hanya mengenalkan figur Cabup-Cawabup saja, melainkan juga calon anggota legislatif. Hal ini penting agar masyarakat bisa memilih pemimpin secara rasional.
Penyelenggara Pemilu sangat perlu sekali mengenalkan para peserta Pemilu ke pada masyarakat. KPU juga harus bisa menyampaikan visi-misi dan kompetensi kandidat.
” Bawaslu juga harus bisa menerangkan kepada masyarakat tentang etika politik. Mana yang boleh dilakukan dan tidak. Penegakan hukum juga bisa dilakukan sebagai efek jera, harus ada keberanian,” tegas kepala badan kesatuan bangsa dan politik kabupaten Batang.
Ia pertegas, bahwa politik jangan diartikan hanya sekedar meraih, mendapatkan dan mempertahankan sebuah kekuasaan belaka. Politik harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran yang diakui oleh masyarakat Indonesia. Juga nilai ketuhanan, politik yang sesuai norma agama yang kita yakini. Tidak boleh bertentangan dengan firman di kaidah-kaidah beragama.
Dr. Agung berharap, jalannya tahun politik ini berjalan kondusif. Tidak membawa strategi dalam teori konflik, sehingga membuat suasana politik semakin memanas. Edukasi politik harus ditekankan untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas, bisa membawa kemajuan daerah. *






