Ganjar Gagal Fokus Dalam Mengikuti Borobudur Marathon, Di Karenakan Banyaknya Para Peserta Yang Ingin Foto Bersama

Magelang261 Dilihat

Magelang, medianasional.id Seperti tahun-tahun sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, SH.MIP kembali terlibat dalam ajang Borobudur Marathon 2018. Didampingi istri tercintanya, Siti Atikoh, Ganjar turun mengikuti lomba dengan kategori 10 K. Minggu, 18/11/18.

Saat mengikuti acara lari marathon Ganjar pada saat start masih bersamaan dengan istri tercintanya Atikoh, namun Ganjar dan Siti Atikoh menyentuh garis finish tidak bersamaan. Selisih waktu yang sangat jauh di karenakan Ganjar tidak bisa fokus berlari pada pelaksanaannya di karenakan sepanjang jalan Ganjar di elu – elukan warga masyarakat yang melihatnya berlari marathon, ia selalu dihentikan warga dan para peserta yang ingin meminta berfoto bersama.

Ganjar merespon peserta yang ingin berfoto bersama, dengan senyum khasnya. Ketika di tengah perjalanan di berhentikan warganya pun Ganjar nurut, seorang warga ingin memberikannya jambu air.
” Pak mandeg sik, tak pekke jambu (pak berhenti dulu, saya ambilkan jambu),” kata pria tersebut.
Mendengar itu, Ganjar langsung berhenti dan melihat pohon jambu milik warga sekitar Borobudur.
“Yawis penekno, (ya sudah cepat naik),” kata Ganjar dengan gaya ceplas ceplosnya.

Ketika Ganjar telah setuju, pria itu pun langsung memanjat pohon jambu di depan rumahnya. Jambu air berwarna merah itu langsung dipetik dan dibagi-bagikan kepada Ganjar dan peserta lainnya.

“Saya senang sekali melihat situasi ini, dan saya yakin peserta lainnya juga merasakan hal yang sama. Bagaimana keterlibatan masyarakat dalam event ini sangat tinggi. Ada sentuhan persaudaraan, persatuan dari warga kepada peserta, ini yang terasa betul sangat kuat yang di tempat lain ndak ada,” kata Ganjar.

Selain antusiasme masyarakat, kearifan lokal dan budaya tradisional lanjut Ganjar juga begitu nampak. Dimana banyak anak-anak yang menampilkan kesenian tradisional, salah satunya adalah tari Barongan.

Nampak di pinggir jalan, para penari Barongan dengan semangat menghibur para peserta, tak terkecuali Ganjar Pranowo. Tertarik dengan pertunjukan kesenian tradisional tersebut, Ganjar berhenti sejenak untuk ngevlog.
Bahkan, mantan anggota DPR RI ini juga ikut menari Barongan. Sontak saja, aksi Ganjar itu membuat para pelari semakin bersemangat dan ikut menari.

“Saya senang anak-anak kecil bisa tampil menari tradisional, orang akan merasa disambut meriah. Ini juga ajang promosi yang bagus untuk kesenian tradisional kita kepada dunia,” paparnya.

Terkait kegiatan Borobudur Marathon 2018 ini, Politisi PDI Perjuangan itu mengaku sangat puas. Ke depan, ia akan terus mempromosikan gelaran itu agar menjadi ajang berkelas dunia.
“Kalau bisa menyaingi Tokyo Marathon, Boston Marathon, New York Marathon dan lainnya. Makanya kami akan siapkan di tahun kelima nanti segalanya, termasuk infrastruktur seperti jalan dan penginapan, manajemen transportasi dan dengan suport masyarakat yang menjadi pelengkap,” tutupnya.

Ajang Borobudur Marathon 2018 menjadi contoh suksesnya pengembangan sport tourism di Jawa Tengah. Terbukti, sebanyak 10.000 peserta mengikuti event itu dan membuat hotel-hotel dan homestay di kawasan Borobudur penuh.

Tak hanya olahraga, Borobudur Marathon yang sudah dilihat empat kali ini juga menawarkan konsep wisata. Pemandangan alami pedesaan dengan ikon Candi Borobudur membuat para peserta tertarik mengikuti event tersebut.
Sepanjang rute lari, para peserta dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah. Hamparan sawah dan ladang dengan background Candi Borobudur menjadikan peserta gagal fokus untuk terus berlari.

Terlihat di beberapa spot, para peserta selalu berhenti untuk selfie. Para peserta lari mereka tak segan tampil layaknya model untuk mendapatkan gambar terbaik.
“Pemandangannya bagus banget, bikin lelah langsung hilang. Cuma yang kurang tukang fotonya, jadi selama lari sibuk selfie sendiri,” kata Rina Setyowati,35.
Rina mengaku sering mengikuti ajang lomba lari di seluruh Indonesia. Namun, hanya di Borobudur Marathon ini dirinya merasa paling berkesan.
“Ini yang paling berkesan, pemandangannya bagus banget jadi gagal fokus untuk lari, malah sibuk selfie. Lebih banyak selfienya dibanding larinya,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Yunda, peserta lainnya. Dirinya mengaku tergoda untuk selfie sepanjang mengikuti ajang lomba lari tersebut.
“Pemandangannya indah banget, jadi tergoda untuk selfie. Kalau biasanya saya ikut lomba lari pemandangannya hanya gedung-gedung, sekarang melewati desa, sawah, hutan yang masih asri. Pokoknya ini keren banget,” terangnya.

Borobudur Marathon 2018 diikuti oleh 10.000 peserta. Tidak hanya dari Indonesia, ratusan peserta dari berbagai dunia juga antusias mengikuti event tersebut. Sepanjang perjalanan, para peserta disambut antusias masyarakat dengan aneka hiburan dan makanan gratis. (sumber foto humas provinsi)

Editor : Puji_Leksono

Posting Terkait

ADVERTISEMENT
Konten berikut adalah iklan platform MGID, medianasional.id tidak terkait dengan isi konten.

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses