Gak Mau Setengah-Setengah, Pemprov NTB Mulai Bongkar Akar Masalah Pendidikan

medianasional.id, Mataram, NTB – Kabar gembira buat masa depan dunia pendidikan kita! Kemarin (18/5), Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal), bareng Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri langsung tancap gas memimpin Rapat Terbatas Bidang Pendidikan di ruang kerjanya.
Gak mau pakai cara lama dan jalan sendiri-sendiri, Miq Iqbal menegaskan kalau urusan pendidikan di NTB harus dirombak total dan dikerjakan secara sat-set lewat kolaborasi antar-dinas.
Salah satu terobosan paling unik yang bakal dicoba adalah sistem Golden Ticket dan Silver Ticket buat meratakan kualitas SMK, terutama yang ada di wilayah pinggiran.
Skemanya keren nih: Kepala sekolah yang terbukti berprestasi, punya circle kemitraan industri yang luas, dan sukses bikin lulusannya gampang dapet kerja, bakal dikirim buat “menyelamatkan” SMK yang masih tertinggal. Gak sendirian, mereka boleh bawa dua guru terbaiknya sebagai support system plus dapet insentif khusus dari pemerintah.
“Pak Gubernur pengen budaya kerja yang sukses di satu sekolah bisa ditransfer ke sekolah lain biar pintarnya merata,” jelas Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik (Aka).
Biar lulusan SMK gak kontribusi ke angka pengangguran, Pemprov NTB juga gandeng Dinas Tenaga Kerja buat bikin program sertifikasi kompetensi, Global Classes, SMA double track, sampai program magang ke Jepang! Jurusan di SMK juga bakal dievaluasi total biar pas sama potensi daerahnya.
“Misalnya daerah tambang, ya jurusannya harus nyambung sama industri pertambangan. Biar lulus langsung diserap dunia kerja,” tambah Aka. Targetnya, ratusan alumni SMK bakal di-upgrade bahasanya dan siap go international mulai tahun 2026–2027 ini.
Rapat ini juga membongkar fakta ngehe soal tingginya angka anak putus sekolah di NTB. Usut punya usut, ternyata ada miss-sinkronisasi data antara sistem Dapodik milik Dikbud dan sistem EMIS punya Kementerian Agama.
Banyak anak yang sebenarnya lanjut sekolah di Pondok Pesantren, tapi di data Dapodik malah dicap “putus sekolah”. Nah loh! Makanya, Miq Iqbal langsung instruksikan bikin tim kecil buat merapikan data statistik ini biar riil.
Gak cuma itu, sekolah alternatif kayak PKBM, SMK Terbuka, sampai akses pendidikan buat anak-anak disabilitas dan kelompok rentan bakal diperluas, bahkan kader Posyandu di desa-desa bakal ikut dikerahkan buat memantau anak yang rawan putus sekolah

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses