Jakarta, Medianasional.id – Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT Jakarta menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Merawat Nalar Sehat Bangsa Demi Peradaban Damai” di Aula Kampus Biru STT IKAT, Jakarta. Acara ini digelar secara hybrid, diikuti peserta tatap muka maupun daring melalui platform Zoom, sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-40 STT IKAT.
Hadir sebagai narasumber utama Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, S.E., M.TnL., M.Si., Senator DPD RI sekaligus tokoh muda Hindu yang dikenal vokal dalam isu-isu kebangsaan. Diskusi dipandu oleh Dr. Ashiong P. Munthe, M.Pd, dosen STT IKAT sekaligus Litbang Pewarna Indonesia.
Menghadirkan Tokoh Hindu di Panggung Teologi Kristen
Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya dialog lintas iman ini.
“Dialog kebangsaan seperti ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi antaragama. Kehadiran Arya Wedakarna adalah kesempatan berharga untuk merawat keberagaman bangsa. Hindu sangat menghargai agama, masyarakat, dan juga ikatan ekonomi yang saling terhubung,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dr. Jimmy MR Lumintang, MA, MBA, MTh, yang menilai forum ini momentum baik bagi pembangunan nalar sehat bangsa.
“Hari ini kita menghadirkan seorang senator DPD RI sekaligus tokoh muda Hindu. Ini momentum penting untuk membangun nalar sehat bangsa,” katanya.
Wedakarna: Iman Bukan Retorika, Melainkan Kualitas Hidup
Dalam pemaparannya, Arya Wedakarna menegaskan bahwa ilmu perbandingan agama perlu dikembangkan agar setiap iman saling memperkaya, bukan saling meniadakan. Ia menekankan bahwa baik Kristen maupun Hindu memiliki misi universal yang sama: menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi sesama.
“Keberimanan tidak diukur dari angka, status, atau retorika. Ia dinilai dari kualitas hidup, perilaku, kerendahan hati, serta kebermanfaatan nyata bagi orang lain,” tegasnya.

Ia mengingatkan generasi muda agar bijak mengelola kehidupan digital. Menurutnya, merawat nalar sehat erat kaitannya dengan kesehatan mental.
“Anak muda sering rapuh, mudah terganggu hanya karena status di media sosial. Karena itu, hati-hati dalam bermedsos, jangan mudah ditebak, dan jangan menjual diri terlalu murah. Jejak digital kini menentukan, bahkan berpengaruh pada administrasi internasional seperti pengajuan visa,” ujarnya.
Sejarah, Persatuan, dan Pancasila
Arya banyak memaparkan sejarah kebangsaan dari era kerajaan nusantara, masa penjajahan, hingga era kemerdekaan RI. Ia mengingatkan bahwa umat Hindu dan Kristen pernah berdiri bersama menolak Piagam Jakarta demi persatuan bangsa.
“Agenda besar kita adalah menjaga Merah Putih. Persatuan bangsa jauh lebih penting daripada dominasi kelompok tertentu,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa Pancasila adalah titik temu universal, yang akarnya bahkan bisa ditelusuri dalam Weda.
“Pancasila itu cocok untuk semua agama. Ia menyemai kebaikan, perdamaian, dan persatuan. Panca dan sila berasal dari Weda, sehingga bisa diterima semua umat beragama di Indonesia,” jelasnya.
Kristen di Mata Wedakarna
Menariknya, Wedakarna secara khusus menyampaikan kekagumannya terhadap umat Kristen di Indonesia. Ia menyinggung pernyataan Donald Trump di forum PBB yang menyebut Kristen sebagai agama paling banyak mengalami persekusi di dunia.
“Saya kagum dengan Nasrani. Mereka kuat, bukan pendendam. Saya yakin Kristen akan menjadi besar di Indonesia ini. Saat ini ada sekitar 25 juta umat Kristen di Indonesia,” ucapnya.
Ia bahkan mengusulkan agar umat Kristen Indonesia melakukan analisis SWOT untuk menakar posisi strategis mereka, mengingat sejumlah wilayah seperti Papua, NTT, sebagian Sulawesi, dan Kalimantan memiliki basis mayoritas Kristen.
Tantangan dan Harapan bagi Generasi Muda
Menurut Wedakarna, anak muda Kristen dipanggil untuk bangkit menjadi bagian dari gerakan global.
“Mereka harus bersandar pada Tuhan, tetapi juga berpikir logis, menguasai teknologi, ekonomi, budaya, dan tetap berpijak pada Pancasila,” katanya.
Dalam sesi tanya jawab, ketika ditanya soal ketersediaan guru agama Kristen di sekolah negeri Bali, Arya menjelaskan bahwa persoalan itu terkait administrasi. Ia berjanji membantu memperjuangkan usulan formal agar pemerintah daerah menyediakan slot khusus guru agama Kristen.
Merangkum Spirit Dialog
Menutup acara, moderator Dr. Ashiong P. Munthe menegaskan bahwa Arya Wedakarna bukan sosok asing bagi komunitas Kristen. Sebelumnya, Arya telah memfasilitasi seminar lintas iman di Universitas Mahendradatta (2021), serta Apresiasi Pewarna Indonesia dan perayaan ulang tahun ke-10 Pewarna Indonesia di Gedung Nusantara DPR-MPR RI.
Ashiong merangkum lima pokok penting dialog:
1. Ilmu perbandingan agama memperkaya misi kasih antaragama.
2. Keberimanan ditentukan kualitas hidup, bukan retorika atau jumlah.
3. Generasi muda Kristen harus menjaga mental health dan bijak bermedsos.
4. Generasi Kristen dipanggil untuk menguasai ilmu, teknologi, ekonomi, budaya, dengan dasar Pancasila.
5. Pancasila adalah titik temu nilai-nilai agama, fondasi persatuan bangsa.
Refleksi Kebangsaan
Dialog kebangsaan di STT IKAT ini menjadi ruang refleksi sekaligus panggilan bersama. Pesan Arya Wedakarna dan moderator Ashiong Munthe menegaskan bahwa persatuan bangsa harus dijaga dengan nalar sehat, keberanian minoritas untuk bersuara, serta semangat Pancasila yang mempersatukan keragaman iman dan budaya demi peradaban damai.







