Airlangga Hartarto Didampingi Menristekdikti Resmikan Pabrik Kakao Wonokerso

Batang288 Dilihat

Batang, medianasional.id
Pabrik Kakao tersebut diresmikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang didampingi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.
Pabrik Kakao yang menjadi Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Desa Wonokerso Kecamatan Kandeman akhirnya diresmikan pada hari Senin (11/2/2019).

Hadirnya perusahaan Kakao di Kabupaten Batang adalah hasil kerjasama antara Kementerian Perindustrian, UGM dan Pemerintah kabupaten Batang ini, digadang-gadang akan menjadi ikon baru Kabupaten Batang.

Orang nomor satu di kementerian Perindustrian itu saat meresmikan pabrik mengatakan, bahwa berdirinya PPKIPKT sebagai bentuk wujud nyata guna meningkatkan produksi komoditas kakao yang memiliki peluang ekpsor besar, guna memenuhi pemintaan pasar yang sangat besar. Oleh sebab itu, Indonesia adalah negara penghasil kakao nomor tiga di dunia harus menjadi produsen, tidak hanya supplier tetapi memiliki produk sendiri.

Lebih lanjut Airlangga Hartarto menuturkan, ” negara Indonesia merupakan penghasil, serta mengolah kakao untuk ekspor, dari bahan baku sampai dengan barang jadi, semua di peruntukan guna diekspor. Saat ini yang paling penting adalah bagaimana caranya untuk meningkatkan di bagian produksi,” Jelas Orang nomor satu pada kementrian perindustrian.

Saat mendampingi Airlangga Hartarto Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, Untuk tugas pengembangan Kakao di Kementriannya adalah urusan dihulunya yaitu harus menyediakan bibit yang berkualitas. Karena pengembangan bibit ini sangat penting sekali sebab bisa menghasilkan kakao yang super.

Lanjut Mohammad Nasir saat berada di pabrik Kakao Batang menjelaskan, bahwa dengan lahan yang seluas 1 Hektar ternyata hanya menghasilkan 1 ton biji kakao. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar angka tersebut perlu adanya peningkatan sebab jika dibandingkan dengan negara Vietnam masih kalah jauh, di sana 1 hektar sudah menghasilkan 4 ton. “Masih menjadi PR kita, solusinya perlu kolaborasi antara Pemerintah, perusahaan dan masyarakat, agar permasalahan ini bisa di carikan solusi, ” Jelasnya.

Orang nomer satu di kabupaten Batang menuturkan, bahwa Pabrik Kakao ini menjadi ikon baru di Kabupaten Batang, karena Pabrik ini tidak hanya untuk industri melainkan juga bisa dimanfaatkan sebagai wahana destinasi wisata baru di kabupaten Batang.

Lebih lanjut orang nomor satu di kabupaten Batang ini meminta, ” Pihak perusahaan untuk bisa membina desa sekitar pabrik agar menjadi daerah coklat. Agar sejalan dengan program kami dalam menciptakan 1.000 wirausahawan baru, dengan slogan one village one product atau satu desa satu produk usaha,” Jelas Wihaji.

Karena berdirinya PPKIPKT menjadi salah satu penyumbang percepatan pembangunan daerah, bidang investasi, wisata dan Indek Pemabngunan Manusia.

Wihaji menuturkan, ” sesuai intruksi Presiden terkait percepatan daerah melalui investasi dan pariwisata dan saya yakin Pabrik Kakao yang dikelola UGM pasti bisa,” ungkapnya.

Sementara General Manager (GM) PPKIPKT, Nur Muhib mengatakan bahwa Pabrik Kakao diproyeksikan untuk tahun ini bisa mengolah 300 sampai 350 ton biji kakao perbulan. Kemudian tahun berikutnya akan dinaikan menjadi 400 ton perbulan.
“Pangsa pasar yang kami Bidik adalah pasar ekspor ke manca negara seperti Amerika Barat, Eropa, dan Amerika Timur, ” ungkapnya.

Lebih lanjut Nur Muhib menjelaskan bahwa tanaman kakao yang berdiri ditanah seluas 160 hektar yang dikelola pabriknya. Hasilnya 50 persen adalah untuk konsumsi ekspor, sedangkan 25 persen untuk pengembangan UMKM, dan sisanya sejumlah 25 persen untuk Agrowisata. Dengan hasil produknya yaitu Cake, butter, powder, liquor sesuai dengan tuntutan pangsa pasar.

Jenderal manager itupun mengatakan, “Kalau pasar ekspor sudah jelas untuk profit perusahaan. Bagi masyarakat kita kerjasama dalam format Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR), dan membangun wirausaha skala UMKM melalui pelatihan pengembangan produk makanan dan minuman berbasis coklat,” Jelasnya.

Keunggulan dari pada Pabrik Kakao yang dikelolanya adalah biji full fermentasi. Sangat beda dengan dipasaran yang hampir 98 persen merupakan hasil olahan kakao non fermentasi. Alasan pabrik enggan memproduksi kakao fermentasi karena pabrik hanya mendapatkan untung belaka. “Keunggulannya nanti rasa coklat lebih bagus, kemudian pabrik ini menjadi satu – satunya industri berbasis kompetisi dan wisata.
Yang bisa jadi Ikon Batang baik sebagai penghasil Kakao dan juga sebagai wahana wisata cokelat, ” Bebernya.

Dr. Hargo Utomo selaku Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM berharap bahwa PPKIPT bisa menjadi rujukan industri Kakao Nasional. Dengan tujuan pabrik Kakao yang terintegrasi dari Hulu hingga hilir, pengolahan kakao menerapkan prinsip-prinsip pengolahan kakao yang berkualitas dengan melibatkan petani kakao dalam mengolah biji kakao sesuai standar SNI.

Dr. Hargo Utomo mengatakan, “UGM melalui salah satu unit kegiatan usaha di bidang perkebunan yaitu PT. Pagilaran selanjutnya akan menjalankan pabrik ini sebagai industri profesional, teaching industry, dan pengabdian terhadap masyarakatli sekitar,” Pungkasnya.

Reporter : Puji Leksono.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses