KENDAL- medianasional.id- Air Mata di Titian Tua. Saat embun pagi belum sepenuhnya hilang dari permukaan Sungai Pidik ketika kabar duka menyelimuti warga Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Seorang perempuan, istri Ketua RT setempat, belum lama ini meninggal dunia setelah terjatuh dari Jembatan Gantung Pidik — jembatan tua peninggalan Belanda yang kian rapuh dimakan usia. Tragedi itu bukan kali pertama terjadi di jembatan yang menjadi satu-satunya penghubung warga menuju lahan pertanian di seberang, sekaligus akses antar Desa Sidodadi, Patean, dan Wonosari, Pegandon.
Kepala Desa Wonosari, Mukhalil, tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Suaranya berat saat mengenang peristiwa tersebut. “Kejadian terbaru, istrinya Pak RT wafat terpleset jatuh dari jembatan ini,” ujarnya lirih. Ia menduga, alas jembatan yang terbuat dari kayu sudah keropos dan licin karena embun pagi, menjadi penyebab utama kecelakaan.
Setiap hari warga melintasi jembatan itu dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor, membawa hasil bumi dari ladang. Namun di setiap langkah dan tarikan gas, selalu ada rasa cemas yang menyertai. “Kalau licin sedikit saja, bisa terpeleset dan jatuh ke sungai,” kata Mukhalil.
Jembatan Gantung Pidik bukan sekadar bangunan tua. Ia menjadi saksi perjalanan sejarah panjang masyarakat Wonosari. Berdasarkan cerita turun-temurun, jembatan tersebut dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1900–1918. Setelah Indonesia merdeka, PT Perhutani sempat memanfaatkannya sebagai jalur pengangkutan hasil hutan sebelum akhirnya dibiarkan terbengkalai.
Kini, besi-besi penopangnya banyak berkarat, sebagian rel hilang, dan kayu alasnya lapuk dimakan usia. “Dulu jembatan ini jadi nadi ekonomi warga. Sekarang kondisinya rusak parah, tapi kami masih harus melintasinya,” tutur Mukhalil.
Meski tanpa bantuan pemerintah, warga tak pernah tinggal diam. Setiap tahun, mereka bergotong royong memperbaiki bagian yang rusak dengan kayu seadanya. “Kami perbaiki sebisanya. Kalau jembatan ini putus, ekonomi warga juga putus. Ini satu-satunya akses ke lahan pertanian,” tegas sang kades.

Harapan baru muncul lewat program nasional “Titian Persatuan” yang diinisiasi oleh Anies Baswedan melalui gerakan sosial Aksi Bersama. Program ini berfokus pada pembangunan dan perbaikan jembatan di pelosok Indonesia agar akses ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik lebih terbuka bagi masyarakat desa.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu datang langsung meninjau kondisi Jembatan Gantung Pidik bersama relawan dan masyarakat setempat, Selasa (7/10/2025). Ia menegaskan bahwa perbaikan jembatan bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi wujud nyata kepedulian terhadap kehidupan rakyat desa.
“Jembatan bukan sekadar baja dan kabel. Ia adalah penghubung hati, penguat persaudaraan, dan bukti bahwa kemajuan hanya bisa lahir ketika kita bergerak bersama,” ujar Anies di hadapan warga.
Kini, di tengah rasa cemas dan duka, terselip secercah harapan. Warga Wonosari percaya, dengan hadirnya perhatian pemerintah dan semangat gotong royong masyarakat, Jembatan Gantung Pidik akan kembali kokoh — bukan hanya sebagai penghubung dua tepi sungai, tetapi juga penghubung harapan yang sempat terputus.(*)






