Lombok Barat, medianasional.id – Gelombang pemberitaan tentang kasus pelecehan seksual di beberapa pesantren telah memicu keresahan dan bahkan stigma negatif di benak sebagian masyarakat. Pesantren, yang seharusnya menjadi oase pendidikan karakter, kini seolah dipandang sebagai tempat yang mengancam keselamatan anak. Di tengah kegelisahan ini, dan maraknya pula perilaku menyimpang di kalangan remaja pada umumnya, pertanyaan krusial kembali mengemuka: di mana sebenarnya tempat terbaik bagi anak untuk menimba ilmu dan membentuk jati diri?
Muhammad Anshori Muazar Habibi Mudirul ‘Aam Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School mengatakan Memilih pendidikan bukanlah sekadar urusan kurikulum dan fasilitas. Ini adalah investasi masa depan, tentang bagaimana menanamkan fondasi intelektual yang kokoh, spiritualitas yang mendalam, dan ketahanan mental untuk menghadapi kompleksitas zaman.
Pesantren adalah akar pendidikan tertua di Nusantara, jauh sebelum Republik ini berdiri. Sejarah mencatat tinta emas peranannya dalam melahirkan pejuang kemerdekaan, ulama kharismatik, dan pemimpin bangsa yang visioner. Pesantren adalah garda moral yang berupaya membentuk generasi Islam yang membawa rahmat bagi semesta.
Namun, ironisnya, hanya karena segelintir oknum yang melakukan kejahatan keji, kepercayaan masyarakat terhadap ribuan pesantren yang selama ini berjuang lurus dalam mendidik santri seolah runtuh. Ini adalah ketidakadilan yang nyata.
“Fokus kita seharusnya tertuju pada pelaku kejahatan, bukan pada institusi pesantren itu sendiri. Kritik yang membangun harus diarahkan pada lemahnya sistem pengawasan, bukan pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan pesantren selama berabad-abad, ” Tegas Abah Muazar Habibi
Dirinya menambahkan, Kasus dugaan pelecehan seksual di sebuah pesantren di Gunungsari, Lombok Barat, baru-baru ini menggemparkan publik. Seorang ketua yayasan berinisial AF diduga melakukan tindakan bejat terhadap puluhan santriwati dalam kurun waktu yang panjang. Modusnya manipulatif, menjanjikan “keberkahan” palsu demi melampiaskan nafsu bejatnya.
Keberanian para alumni santriwati yang terinspirasi oleh serial “Bid’ah” patut diapresiasi karena telah membuka tabir kelam ini. Namun, jangan sampai kasus ini menjadi pembenaran untuk menggeneralisasi keburukan pada seluruh pesantren. Ini adalah logika sesat yang berbahaya dan tidak adil.
” Kita harus mampu membedakan antara kejahatan individu dengan integritas ribuan pesantren lainnya yang dengan tulus dan penuh dedikasi membina santri. Jika ada oknum yang menyimpang, dialah yang harus dihukum seberat-beratnya. Jangan biarkan stigma negatif mencoreng reputasi pesantren yang selama ini berjalan lurus, ” Pungkas Abah
Bukan hanya itu, Abah Muazar menuturkan bahwq menghakimi seluruh pesantren atas dosa satu orang sama absurdnya dengan merobohkan masjid karena kesalahan imamnya. Sikap bijak adalah menjadikan kasus ini sebagai momentum introspeksi dan perbaikan menyeluruh baik dalam penguatan sistem pengawasan internal pesantren maupun dalam meningkatkan literasi publik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi media yang tendensius.
Peran aktif Kementerian Agama di semua tingkatan menjadi krusial. Pembinaan, pengawasan, dan pendampingan pesantren harus ditingkatkan. Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren memiliki tanggung jawab strategis dalam membina kurikulum, legalitas, dan menjaga integritas lembaga. Di tingkat daerah, Kantor Kemenag Kabupaten/Kota harus menjadi garda terdepan dalam memastikan pesantren terdaftar resmi, memiliki pengelolaan transparan, dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan beretika. Penguatan sistem pelaporan, pelatihan pengasuh santri, dan audit etika harus menjadi kebijakan berkelanjutan.
Sinergi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci untuk mencegah kasus serupa dan menjaga marwah pesantren sebagai benteng moral bangsa.
Lebih lanjut, Abah Muazar mengatakan membangun pesantren membutuhkan waktu, tenaga, dan pengorbanan yang besar. Kepercayaan, kultur, dan nilai dibangun bertahun-tahun. Opini publik yang gegabah dan tidak proporsional dapat merusak segalanya membuat wali santri ragu, menjatuhkan semangat guru, dan bahkan menghancurkan karakter santri yang dididik dengan kasih sayang. Literasi publik dalam menilai informasi sangat penting. Jangan terburu-buru menghakimi hanya karena satu berita viral.
” Sekolah umum memang menawarkan keunggulan dalam fasilitas dan teknologi. Namun, tantangan serius juga menghadang: lemahnya pengawasan karakter, pengaruh budaya permisif, hingga tingginya angka bullying, tawuran, dan penyalahgunaan narkoba. Dalam situasi ini, pesantren justru bisa menjadi pilihan rasional dengan pembinaan holistik yang fokus pada akhlak, ibadah, kedisiplinan, dan ketahanan mental, ” Cetusnya
Sehingga Abah mengatakan, kita tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan pembenahan di pesantren. Transparansi, profesionalisme, perlindungan santri, dan sistem pelaporan yang terbuka harus diperkuat. Namun, solusinya bukan meninggalkan atau mencabut kepercayaan pada seluruh pesantren.
Justru saat inilah kita perlu bersinergi masyarakat, pemerintah, dan media untuk memperkuat pesantren-pesantren yang baik. Mereka adalah harapan terakhir dalam membentuk generasi berkarakter di tengah krisis moral.
” Hentikan narasi keliru yang menyudutkan pesantren secara serampangan. Mari jaga marwah lembaga pendidikan Islam yang telah lama menjadi benteng moral bangsa. Pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan tempat menanam iman, adab, dan masa depan. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah di mana anak bersekolah, melainkan siapa yang mendidik, nilai apa yang ditanamkan, dan lingkungan seperti apa yang membentuk karakter mereka, “Tutupnya






