PT. KAS Didemo Ratusan Masyarakat Tiga Desa, FNTD Tuntut Denda Rp 3 Milyar

692 views

Abdullah Sani : “Kita Terima Penutupan Sementara, Denda Rp 3 Milyar Itu Bukan Wewenang Saya Yang Menentukannya”

 

Ratusan Masyarakat Dari Tiga Desa Berunjuk Rasa

Mukomuko, medianasional.id – Aksi unjuk rasa dilakukan ratusan warga dari 3 desa di kecamatan Teramang Jaya kabupaten Mukomuko, Jum’at (27/7) berujung kepada penggebokan pintu gerbang serta mesin produksi parik Crude Palm Oil (CPO) PT. Karya Agra Sawitindo (KAS). Sehingga diperkirakan perusahaan tersebut mengalami kerugian yang tak sedikit, karena berhenti beroperasi. Pasalnya warga desa Pasar Bantal, Nelan Indah, dan desa Madi Angin dan atas nama Forum Nelayan Tiga Desa (FNTD) tersebut merasa kesal, karena limbah cair dari pabrik itu diduga telah mecemari sungai Air Baru. Sehingga beberapa hari lalu, mengakibat banyak ikan mati.

Dari patawan medianasional.id  aksi warga yang belangsung sekitar pukul 09:00 WIB itu, terlihat mendapat pengawalan ketat dari pihak keamanan. Lebih kurang sekitar 3 pelton anggota Kepolisian serta TNI, yang diturunkan ke TKP untuk melakukan pengamanan. Aksi tersebut sepertinya telah terarah, sehingga tak terjadi kejadian yang tidak diinginkan (Anarkis). Dan pihak pabrikpun tak bisa menolak keinginan warga yang lantas melakukan  penyegelan serta penggembokan gebang dan mesin produksi CPO tersebut.

 

Penggembokan Pada Peralatan Mesin Produksi CPO

Penyegelan dilakukansekitar  pukul 10:20 waktu setempat dilakukan warga, lantaran dugaan pecencemaran terhadap sungai Air Baru itu, tak dapat ditoleransi lagi. Dan terdapat 4 item tuntutan yang diajukan warga dalam aksi itu sebagai berikut :

  1. Penutupan pabrik sementara waktu, sampai perbaikan kolam yang diduga bocor dan sampai dengan sample air hasil laboratorium selesai oleh dinas terkait.
  2. Masyarakat tidak mau lagi melihat dan mendengar limbah dibuang ke sungai-sungai kecil, silahkan membuat kolam pengolahan limbah merujuk ke pengolahan limbah yang telah RSPO ke PT. Agro Muko BT. POMIL di Bunga Tanjung Estate, yang buangan akhirnya tidak mematikan biota air dan ternak.
  3. Akibat kejadian kemaren, masyarakat adat menuntut denda adat Rp 3 milyar untuk tiga desa (Desa Pasar Bantal, Desa Nelan Indah dan Desa Mandi Angin Jaya).
  4.  Apabila kejadian berulang, maka setiap kejadian di denda adat di atas Rp 3 milyar, sesudah itu apabila tidak dipenuhi dan hukum tidak berjalan, tajam kebawah tumpul keatas, maka masyarakat bergerak sendiri dengan kekuatan dan masyarakat sendiri yang menjadi hukum di lapangan.

Diwawancarai setalah aksi penyegelan tersebut, salah seorang warga Teramang Jaya yang merupakan orator unjuk rasa itu, Ezy Zulhazi mengatakan. Kemarahan masyarakat itu menurutnya cukup beralasan, karena dipicu pengelolaan limbah PT. KAS tersebut, diduganya tidak mengacu kepada standarisasi sistem dan tatacara pengolahan limabah yang baik dan benar.

“Setahusaya pengolahan limbah itu ada aturan yang wajib dipatuhi. Sehingga pada buangan akhirnya limbah itu nantinya tidak mematikan biota dan ternak. Sementara kondisi dilakuakan PT. KAS ini, cuma memindahkan air limbah dari kolam satu ke kolam yang lain, itu artinya hanya memindahkan air limbah itu saja,” katanya.

Dari kejadian itu lanjut Ezy Zulhazi dia mengatakan, masyarakat hilang kepercayaan terhadap Dinas Lingkungan Hidup  (DLH) kabupaten Mukomuko.  Karena kata dia,  pihak DLH diduga hanya menerima laporan diatas kertas dari pabrik-pabrik CPO. Akan tetapi tidak melakukan uji laboratorium sendiri, utuk melakukan pengecekan limbah CPO, itu apakah aman untuk dibuang di sungai.

“Terus terang masyarakat krisis kepercayaan terhadap dinas LH. Karena kita menduga mereka hanya menerima  laporan diatas kertas, akan tetapi tidak melakukan pengujian limbah itu sendiri,” tukasnya.

Semetara itu dikonfirmasi disela-sela aksi unjuk rasa, Manager PT. KAS Abdullah Sani, mengakui ada kegiatan yang dilakukan pihaknya, yang memicu pada pencemaran. Karena lanjutnya beberapa hari lalu ada kebakaran terjadi terhadap janjangan kosong, dan kemudian dilakukan penyiraman. Kemungkinan air dari penyiraman janjangan kosong itu  mengalir menuju ke sungai Air Baru, sehingga mengakibatkan banyak ikan mati.

Abdullah Sani

Menurut dia pihaknya menerima penyegelan yang dilakukan masyarakat tersebut. Terkait  4 item tuntutan masyarakat kata Abdullah Sani lagi, dirinya sepakat terhadap hal tersebut. Kecuali pada item nomor 3, terkait denda adat Rp 3 milyar. Karena menurutnya perihal tersebut, bukan drinya yang berwenang memutuskan.

“Tuntutan dari masyarakat item satu dan dua itu, akan kita penuhin, dan sesegera mungkin dilakukan perbaikan terkait permasalahan limbah. Kalau tuntutan yang Rp 3 miliyar itu, bukan wewenang saya yang menentukannya. Akan kita sampaikan kepada pihak megemen terlebih dulu. Mereka menggembok pabrik ini, dan telah kita laporkan, pihak managemen mengatakan tidak mempermasalahkan soal itu,” ujarnya.

Ketika ditanya terkait adanya dugaan pipa siluman, dan merupakan aliran limbah dari pabrik PT. KAS yang menuju ke sungai Air Pinang, dia menyatakan dirinya tidak mengetahui persoalan tersebut. Karena katanya ia baru dua bulan ditugaskan memimpin pabrik CPO PT. KAS yang berada di desa Pernyah kecamatan Teramang Jaya tersebut.

“Kalau adanya pipa siluman, saya tidak tahu soal itu. Karena saya baru dua bulan ditugaskan disini. Kalau soal pencemaran, saya mengaku, tidak mengaku juga tidak. Soalnya pembuangan limbah kita mengalir ke Air Pinang, sementara air pencucian mesin dan segala macamnya, mengalir ke Air Baru. Pada tanggl 17 Juli 2018 kemaren, memang ada  janjangan kosong kita terbakar, dan kita siram,” pugkasnya.(Aris)

 

Mukomuko

Penulis: 
author

Posting Terkait

Tinggalkan pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.