Meneropong Generasi Society 5.0

193 views

Meneropong Generasi Society 5.0

Oleh : Siti Zulaeka

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban)

Istilah Revolusi Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Seorang ekonom terkenal asal Jerman yang menulis dalam bukunya: The Fourth Industrial Revolution. Sebenarnya beberapa negara juga mempunyai roadmap digitalisasi industri yang serupa. Seperti, China dengan Made in China 2025, Asia dengan Smart Cities. Dan Kementerian Perindustrian juga mengenalkan Making Indonesia 4.0, yang pada bulan April 2018 dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sebagai masyarakat awam, efek kondisi Industri 4.0 telah kita lihat dan rasakan. Belakangan, muncul model-model bisnis baru dengan strategi yang lebih inovatif. Ambil contoh, GO-JEK sebuah perusahaan yang tidak mempunyai armada, namun mempunyai nilai valuasi 12 kali dibanding Garuda. Fenomena serupa juga terjadi di dunia perbankan. Beberapa profesi seperti teller bank, analis kredit, agen asuransi, kasir, resepsionis akan hilang dan digantikan oleh ponsel pintar. Akibatnya, berimbas pula pada tatanan sosial masyarakat.

Pada tanggal 21 Januari 2019, secara mengejutkan Kantor PM Jepang meluncurkan roadmap yang lebih humanis, dikenal dengan super–smart society atau Society 5.0. Yang merupakan tatanan masyarakat yang berpusat pada manusia (human–centered) dan berbasis teknologi (technology based). Sebagai catatan, Society 5.0 didahului dengan era berburu (Society 1.0), pertanian (Society 2.0), industri (Society 3.0), dan teknologi informasi (Society 4.0)

Melalui Society 5.0, kecerdasan buatan yang memperhatikan sisi kemanusiaan akan mentransformasi jutaan data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan. Tentu saja diharapkan, akan menjadi suatu kearifan baru dalam tatanan bermasyarakat. Tidak dapat dipungkiri, transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Dalam Society 5.0, juga ditekankan perlunya keseimbangan pencapaian ekonomi dengan penyelesaian problem sosial.

Dalam Industri 4.0, dikenal adanya cyber–physical system (CPS) yang merupakan integrasi antara physical system, komputasi dan juga network/komunikasi. Dan Society 5.0 merupakan penyempurnaan dari CPS menjadi cyber–physical–human systems. Dimana human (manusia) tidak hanya dijadikan obyek (passive element), tetapi berperan aktif sebagai subyek (active player) yang bekerja bersama physical system dalam mencapai tujuan (goal). Jadi interaksi antara mesin (physical system) dan manusia masih tetap diperlukan. Walaupun Society 5.0 hanya untuk masyarakat dan industri di Jepang, namun patut kita cermati

Melihat pernyataan diatas tentang society 5.0 yang sekarang sudah mulai merambah. Generasi society 5.0 akan serba menggunakan teknologi dalam bermsyarakaat. Sudah ada seharusnya meratanta dana desa untuk internet agar masyarat pedesaan tahu menahu tentang bagaiman mereka sedang hidup pada zaman yang serba teknologi. Jika disrupsi teknologi atau industri 4.0 lebih kepada pribadi keuntungannya. Society 5.0 ini akan lebih bersosial dengan menggunakan teknologi. Pada era society 5.0 sudah seharusnya bukan revolusi lagi sudah pada tahap impelemtansi dari 4.o. petani yang kekuarangan alat teknologi bahkan tidak ada alat teknologi untul bertani pada era society 5.0 harus memunculkan adamya sebuah pembaharuan dimana semua orang bercocok tana, mampu menggunakan teknologi. Sehingga minimnya manusia dalam tahap pengangguran.

Namun dibawah kepemimpinan presiden terpilih yang menyatakan akan adanya kartu pra kerja dengan honor sedemikan banyaknya. Tentu harus meminimalisir orang-orang untuk memilikinya. Artinya dalam society 5.0 meskipun semua serba teknologi namun manusia tetap harus bekerja jika ingin berpenghasilan. Itu yang seharusnya ditanamkan pada warga negara Indonesia. Robot-robot manusia mulai dihadirkan sehingga aktivitas tenaga yang dibutuhkan semakin terkurang. Seharusnya aktifitas pola pikir semakin menambah pengetahuan. Tentu dalam restoran-restoran pelayanan manusia semakin minim jumlahnya.

Editor : Abu Bakar Sidik

Artikel Opini UPB Bumiayu

Penulis: 
author

Posting Terkait

Tinggalkan pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.