Limbah Serabut Masih Marak di PL Mukomuko, Belum Ditemukan Sumber Datangnya, Kepala DLH Mengaku “Pusing”

130 views

Mukomuko, medianasional.id – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Mukomuko Robin Linton, mengaku kelabakan serta pusing. Akibatnya, sebulan terahir ini para nelayan Pantai Indah Mukomuko (PIM) kesuahan memperoleh tangkapan ikan. Karena pada hari ini pun, alat tangkap para nelayang tersebut, masih dipenuhi limbah berupa serabut yang diduga dari pabrik pengolahan minyak mentah Tadan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Pengakuan itu dinyakan Robin Jum’at (12/04), diruang LAB milik DLH. Yang membuat Robin sedikit agak pusing, karena pihaknya telah berupaya meminta sample limbah pada sejumlah 14 pabrik Cude Palm Oil (CPO) yang terdapat di Mukomuko. Namun pada kenyataannya, saple limbah diseluruh pabrik tersebut, tidak ada yang berbentuk serabut. Sebagaimana limbah yang masih ditemukan para nelayan PIM, di daerah Perairan Laut (PL) mukomuko.

“Seluruh pabrik yang ada, telah kita minta sample limbahnya. Tetapi tidak ada limbah  yang berjenis serabut. Yang saya pusingkan pabik sawit di Mukomuko ini kan, telah lama keberadaannya. Nah mengapa baru sebulan terkhir ini baru temukan limbah yang menghebohkan para nelayan. Namun kami akan berusaha mendalami hal itu lebih jauh lagi.” Katanya.

Disisi lain salah seorang anggota komisi III DPRD Mukomuko Wisnu Hadi baru-baru ini mengatakan, permasahan limbah pabrik CPO berada didaerah ini, dirasakannya sulit  untuk dapat terselesaikan secara maksimal. Alasannya kata Wisnu, persoalan tersebut  sangat tidak mudah bisa teratasi dengan mudah. Karena kata Wisnu diduga ada pihak-pihak berpengaruh campur tangan. Ibarat pepatah “Tak semudah Membalikan Telapak Tangan”. Dikatakan Wisnu lagi,  bahkan beberapa waktu silam pihaknya, atas nama komisi III DPRD setempat, pernah mendatangi Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen-LH). Namun pada kenyataannya, sampai sekarang, ujarnya lagi pemasalahan limbah pabrik CPO tersebut, disinyalir belum bisa diakui secara maksimal uji kelaiakannya. mengenai baku mutunya, boleh tidaknya limbah tersebut dibuang melalui sungai.

“Saya rasa susah menyelesaikan permasalahan limbah pabrik CPO yang ada didaerah ini. Karena diduga ada pihak pemangku kempentingan ikut adil. Bahkan kami pernah datang ke Kemen-LH membicarakan soala limbah pabrik CPO. Dan pihak Kemen-LH itu berjanji akan datang ke Mukomuko untuk melakukan pengecekan dan pemantauan langsung.  Namun pada kenyataannya, sampai sekarang pihak kementerian itu, belum ada yang turun langsung kelapangan.” Ungkap Wisnu Hadi.

Sekedar untuk mengingat. Memanga pada kenyataannya di Indonesia, perkembangan perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan secara signifikan, dari tahun ke tahun.  Perihal itu, disebabkan tingginya permintaan CPO (Crude Palm Oil) dunia. Sebagai sumber minyak nabati dan penyediaan  biofuel. Akan tetapi memiliki dampak positif serta dampak negatif, pada lingkungan.

Adapun dampak yang ditimbulkan, antara lain meningkatkan level CO2 (karbon diokasida) di atmosfer. Mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plsama nutfah. Hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan, peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam. Lahan-lahan tidak mempunyai kemampuan menyerap serta menahan air. Yang akan berakibat pada kehancuran habitat flora dan fauna. Serta berdampak kepada konflik antar satwa. Maupun konflik satwa dengan manusia,  akibat habitatnya telah rusak. Sehingga tidak lagi memiliki tempat yang cukup, untuk hidup dan berkembang biak secara alami.

Begitupun tekait limbah industri pengolahan Tandan Buah Segar (TBS), atau disebut juga dengan  pengaolahan minyak mentah (Crude Palm Oil). Dan bisa mengakibatkan dampak ekologi, berupa cemarnya lingkungan. Yang akan mengurangi biota dan mikroorganisme perairan, yang dapat pula menyebabkan keracunan. Karena bisa memproduksi atau melepaskan gas metan (CH4) dan CO2. Sehingga  naiknya emisi penyebab efek rumah kaca, yang sangat berbahaya. Dari  limbah gasnya mengalami peningkatan kadar CO2, serta dapat terjadinya polusi udara.(Aris)

 

Mukomuko

Penulis: 
author

Posting Terkait

Tinggalkan pesan