Film The Santri dalam Kacamata Kontroversi

342 views

Film The Santri dalam Kacamata Kontroversi

Oleh:

Siti Zulaeka
(Alumni Pondok Pesantren El-Bayan Bendasari Majenang)

Bulan Oktober seluruh pesantren disibukkan dengan persiapannya menyambut hari santri Nasional yang jatuh pada tangga 22 Oktober 2019. Pondok-pesantren saling berlomba-lomba dalam membuat sebuah acar untuk merayakannya termasuk judul film “The Santri” yang akhir-akhir ini sedang digemari oleh kaum remaja santri. Film “The Santri” yang disutradari oleh Livi Zheng menuai banyak kontroversi baik bagi kalangan pemuda maupun kalangan para Kyai. Kontroversi ini keluar ketika trailer mulai di publikasikan oleh para penggarap film tersebut.

Santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai tiga arti (1) orang mendalami agama Islam (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yang sholeh), (3) orang yang mendalami pengajiannya dalam agama Islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain-lain.

Selain dari bahasa Indonesia kata “Santri” memilii arti yang diserap dari bahasa Inggris yaitu “ SUN dan TREE” yang artinya tiga matahari. Seperti yang kita ketahui matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang panas pada bumi ketika siang hari. Matahari juga menjadi sumber kebutuhan bagi tumbuhan.
Menjadi penerang dan menjadi titik untuk bulan dan bintang yang bersinar pada malam hari. Namun, dalam hal ini yang dimaksud tiga matahari bagi kaum santri ialah, bahwa sudah seharusnya iman, Islam dan Ikhsan terpatri pada jiwa santri, sehingga dirinya dekat dengan Allah dan takut untuk melakukan hal yang tidak diperbolehkan oleh agama.

Selain itu, Nur Kholis Madjid ilmuwan yang memiliki pengetahuan agamis yang universal mengartikan kata santri berasal dari bahasa “cantrik” diambil dari bahasa jawa yang artinya orang yang selalu megikuti perintah gurunya. Variasi makna santri sebenarnya tertuju pada satu titik bahwa mereka yang disebut seorang santri adalah yang sedang menimba ilmu dengan jarak yang jauh untuk memperdalam ilmu agama serta memperbaiki akhlakul karimah.

Pengertian diatas akan mengantarkan pada arti film the santri yang akan tayang dibioskop pada tanggal 22 oktober 2019 mendatang. Film the santri yang dibintangi oleh Gus Azmi. Veve Zulfikar dan Wirda Mansyur banyak yang menunggu untuk menontonnya dan banyak juga yang menginginkan untuk tidak ditayangkan. Dua muka pada film ini memiliki muka negatif dan muka positif tergantung bagiaman cara melihat film the santri tersebut.

Kacamata Positif Film The Santri

Setiap hal yang dipertontonkan atau film yang dibuat tentu memiliki tujuan untuk memberikan sebuah pelajaran hidup atau kebermanfaatan untuk yang menontonnya. Film the santri yang sudah terpublis trailernya ternyata sangat dilirik bagi kalangan siapapun. Bahkan kalangan santri pun ada yang menunggu untuk melihat dan ada yang tidak ingin melihat karena tidak sesuai dengan syari’at agama Islam. Jika dilihat dari kacamata positifnya. Banyak pelajaran yang bisa diambil diantaranya menghargai suatu perbedaan, tidak pantang menyerah serta dunia santri tidak sekeji dunai napi. Meskipun dalam film the santri yang difokuskan adalah dunia percintaan, namun sisi lain yang dapat diambil ialah sisi menghargai perbedaan serta cita-cita yang sangat tinggi. Dalam realita sering kita menjumpai beberapa anak pondok atau santri tidak melanjutkan cita-citanya lantaran beberapa sumbatan yang dialaminya seperti ekonomi dan sebagainya. Film tersebut mendorong para santri untuk tetap semangat dalam mengaji dan menggapai cita-cita.

Dalam agama Islam ,tidak pernah diajarkan untuk saling membenci bahkan membela diri. Rasulullah menyebarkan agama Islam meskipun diawali dengan dakwah secara sembunyi-sembunyi namun setelahnya dilakukan secara terbuka. Selain dalam hal itu, Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk membenci orang kafir yang tidak pernah mau menyembah Allah meskipun itu keluarga dari Rasulullah. Hal ini diterapkan juga dalam film tersebut dimana ketika pemeran Wirda mendapatkan beasiswa di Amerika Serikat ia tetap bergabung bersama mereka dan menghargai mereka dari mulai adat, budaya dan kesehariannya.

Kacamata Negatif Film The Santri

Meskipun film ini baru dirilis trailernya, faktanya film ini sudah menimbulkan kontra. Hal tersebut dikarenakan The Santri mendapat protes dari menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, Hanif Alathas. Hanif menyatakan sikap penolakannya bahkan meminta para santri dan jamaahnya untuk tidak menonton film tersebut. Hanif beralasan film garapan Livi Zheng itu tidak memenuhi syariat Islam dan tidak mencerminkan akhlak serta tradisi pesantren ahlussunah wal jamaah. Hal tersebut ia buktikan pada beberapa adegan adanya campur aduk laki-laki dan perempuan, akting pacaran dan membawa tumpeng ke gereja.

Realita yang sekarang sedang terjadi ialah banyak anak santri masih menggandrungi kata “pacaran” sehingga sesepuh kyai seolah tidak memperingati santrinya untuk tidak pacaran. Pacaran seorang santri mereka artikan sebagai pacaran silami. Dalam film the santri seharusnya adegan hal-hal yang condong ke sisi negatif jangan ditayangkan, karena pemikiran para santri tentu akan berbeda. Ada yang suka dan ada yang tidak.

Adegan saling tatap dan menemani Wira Mansyu saat naik kuda merupakan kurang etis bagi kaum santri. Santri terdidik untuk mendalami ilmu agama, agar mampu mengamalkannya. Bukan malah cenderung ke dalam hal yang negatif. Adegan tersebut sangat menuai kritikan yang sangat hot dari para netizen terutama para kyai. pasalnya contoh-contoh tersebut malah yang akan dikenang oleh para santri atau bahkan mereka yang bukan santri. Film The Santri ini sebenarnya bukan salah satu film yang jalan ceritanya sangat agamis.

Film-film yang lain pun banyak yang meceritakan kisah santri ataupun pondok pesantren. Seperti tujuh petala cinta, Cahaya Cinta Pesantren, dan lain sebagainya. Namun mengapa netizen begitu menohok pada film the santri? Hemat penulis film the santri ini objek yang disajikan oleh sutradara adalah langsung fokus terhadap kalimat santri, sehingga banyak menuai kontroversi.

Menjadi seorang santri adalah gelar yang harus diemban penuh dengan amanah dari sang illahi. Seorang santri adalah contoh baik bagi yang lainnya. Memberikan makna-makna positif tentang dunia pondok pesantren. Manut sama dawuhe guru serta malu untuk melanggar perintah Allah.

 

Editor : Abu Bakar Sidik

Artikel Opini The Santri

Penulis: 
author

Posting Terkait

Tinggalkan pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.