Pergerakan Kaum Intelektual

140 views

Pergerakan Kaum Intelektual

Oleh :

Siti Zulaeka

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UniversitasPeradaban)

Jalaludin rahmat dalam buku berjudul Rekayasa Sosial menyatakan bahwa, untuk melakukan rekayasa sosial dibutuhkan tiga hal : Ide, tokoh dan gerakan yang masif. Lantas, ide atau desire apa yang harus tertanam oleh masyarakat Bangsa Indonesia termasuk kaum intelektual untuk menjadi bangsa yang beradab?. Salah satu kunci untuk menjadi manusia sukses adalah kepercayaan diri, dengan demikian sebuah bangsa yang ingin maju tentunya juga harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Namun ketika sebuah pertanyaan sederhana penulis lontarkan kepada sekelompok mahasiswa, seperti apakah Bangsa Indonesia menurut kamu? sebagian besar dari mereka menjawab: Korup, Pemalas, Dilecehkan dunia Internasioanal (pecundang), dan sebagainya.

Jawaban dari mereka mengisyaratkan kondisi bangsa yang sudah jauh dari kondisi beradab dan terhormat, jauh dari landasan nilai-nilai Pancasila, sebuah bentuk kepercayaan diri sebuah bangsa yang rendah. Ibarat manusia, hal ini mengisyaratkan tidak hanya kepercayaan diri sebagai bangsa yang rendah, tetapi sudah menjurus kearah depresi. Lantas apakah hal itu benar, bangsa kita demikian buruknya?, Apa yang menyebabkan demikian ?

Salah satu imbas positif dari dicetuskanya politik etis oleh pemerintah Belanda adalah lahirnya kaum pelajar Indonesia yang sadar untuk berjuang demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Mereka berkumpul, berorganisasi dan kemudian mengikrarkan visi kemerdekaan dalam nuansa persatuan.

Akhirnya, Bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, hanya berselang 37 tahun sejak organisasi Budi Utomo yang dimotori kaum pelajar dideklarasikan. Sebelumnya, ratusan tahun perjuangan menggapai kemerdekaan menemui kegagalan, sementara sekelompok pemuda terpelajar tersebut hanya membutuhkan 37 tahun untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

James Watt tak sekedar membuat mesin uap, yang ia buat adalah sesuatu yang melahirkan revolusi industri dan pada akhirnya mengubah tatanan sosial secara global. Dari sanalah lahir marxisme, dikotomi borjouis-proletar dan kolonialisme. Oppenheimer tak sekedar membuat bom atom, yang Ia buat adalah sesuatu yang pada akhirnya menentukan konfigurasi politik global. Pun demikian dengan Shockley yang tak sekedar membuat transistor, yang ia ciptakan menjadi landasan revolusi teknologi informasi dan kini telah menjelma menjadi alat untuk infiltrasi budaya serta rekayasa sosial.

Sejarah memang membuktikan bahwa kaum ilmuwan (intelektual) senantiasa berada didepan dalam gerak sejarah dan peradaban. Mungkin inilah yang membuat Michael hart menempatkan sebanyak 37 ilmuwan dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di Dunia. Contoh lainnya adalah revolusi Prancis yang diilhami pemikiran beberapa filsuf tentang demokrasi.

Contoh diatas merupakan ilustrasi terkait peran seorang intelektual sebagai lokomotif peradaban. Kaum pelajar sebagai bagian dari kaum intelektual harus menyadari peranan dan tanggung jawabnya yang besar, yakni lebih dari sekedar calon pengisi teknostruktur pembangunan. Karena sejatinya kaum pelajar sebagai bagian dari kaum intelektual adalah para lokomotif perubahan dan peradaban.

Menurut Mohamad Hatta, karakter seorang insan akademis adalah senantiasa mencari dan membela kebenaran ilmiah. Kaum pelajar Indonesia saat perjuangan menggapai kemerdekaan memiliki integritas terhadap keilmuan yang sedang digeluti. Pada akhirnya mereka sampai pada pemaknaan atas tanggung jawab seorang insan akademis meski latar belakang kelimuan mereka berbeda-beda.

Ketika suatu Negara tertimpa suatu masalah maka ada dua pertanyaan yang mengemuka. Pertama adalah apa kesalahan kita dan yang kedua adalah siapa yang menimpakan persoalan ini kepada kita. Lalu apa sejatinya kita dan bangsa Indonesia diera kekinian ini?, jawabannya adalah hanya sedikit lupa dengan masa lalunya. Kepada kaum muda khususnya dan umumnya kepada seluruh masyarakat bangsa kita, mari berpikir positif, tanamkan pada diri kita nilai-nilai budaya bangsa luruskan dengan ideologi pancasila, dan kokohkan kepercayaan diri pada bangsa kita.

Editor : Abu Bakar Sidik

Artikel Opini Universitas Peradaban

Penulis: 
author

Posting Terkait

Tinggalkan pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.